MAKALAH
BAHAN
ISOLASI PADAT
( KARET )

Disusun
Oleh:
Abdul Hamidan
(151341004)
Teknik Elektro D3
Jurusan Teknik
Elektro
Fakultas
Teknologi Industri
Institut Sains
& Teknologi Akprind
Yogyakarta 2015
BAB I
PENDAHULUAN
Di dalam pembelajaran terutama ILMU BAHAN ELKTRONIKA, tentuh
kita mengenal istilah-istilah yang tidak asing lagi terutama yang mengenai atau
yang berubungan dengan listrik, elektronika. Hal-hal dasar atau istilah-istilah
yang umum kita degar seprti Konduktor, Isolator, Semikonduktor dan lain-lain.
Di dalam makalah ini kami akan membahas ISOLATOR,
sebagai salah satu bahan acuang pembelajaran IBE (ilmu Bahan Elktronika) Dalam
bentuk Makalah, isitilah Isolator sudah tak asing lagi bagi telinga kita, mukin
bagi kita suda banyak yang mengetahui apa itu Isolator, dan adapun yang
masi minim akan pengetahuanya mengenai Isolator, untuk itu lah kami dari
kelompok IV akan membahas Isolator untuk menamba dan memperdalam pegetahuan
tentang Isolator
A.
Rumusan Masalah
*
Apa itu Isolator ?
*
Apa Kegunaan Isolator ?
*
Megapa isolator tidak dapat mengantar listrik !
B.
Tujuan Pembelajaran
*
Dapat megetahui yang dimaksud dengan isolator
*
Dapat Mengetahui Kegunaan isolator
C.
Manpaat Pembelajaran
Menambah wawasan mahasiswa Tentang Isolator
Mahasiswa dapat memahami apa itu isolator padat ( karet)
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pegertian Isolator
Isolator listrik adalah bahan yang tidak bisa atau sulit melakukan
perpindahan muatan listrik. Dalam bahan isolator valensi elektronnya terikat kuat pada atom-atomnya. Bahan-bahan ini dipergunakan
dalam alat-alat elektronika sebagai isolator, atau penghambat mengalirnya arus
listrik. Isolator berguna pula sebagai penopang beban atau pemisah antara konduktor tanpa membuat adanya arus mengalir
ke luar atau atara konduktor.
B. Bahan-bahan Isolator
Bahan - bahan yang bersifat isolator
ialah bahan - bahan yang bersipat menghambat arus listrik bila dihubungkan
dengan sumber tegangan. Bahan isolator terbagi atas bahan isolator yang cair,
gas dan padat. Contoh macam-macam bahan
isolator antara lain sebagai berikut :
·
Bahan isolasi cair
merupakan salah satu bahan listrik yang sering digunakan oleh masyarakat. Yang perlu dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat
mulai sekarang ini adalah meningkatkan pengetahuan mengenai bahan isolasi
cair dan melestarikan bahan-bahan anorganik maupun organik sebagai bahan
dasar pembuat bahan isolasi cair contohnya adalah minyak transformator dll.
·
Bahan
isolator gas adalah bahan penyekat yang berbentuk gas yang mana contohnya
adalah udara, hydrogen dll.
·
Bahan
isolator padat adalah bahan isolator yang di bentuk dari bahan yang padat, yang
mana bahan tersebut tidak dapat menghantarkan arus listrik contoh, karet, kayu,
kaca dll.
C. Sifat-sifat bahan Isolator
1) Sifat Kelistrikan isolator
Bahan
penyekat mempunyai tahanan listrik yang besar. Penyekat listrik ditujukan untuk
mencegah terjadinya kebocoran arus listrik antara kedua penghantar yang berbeda
potensial atau untuk mencegah loncatan listrik ketanah. Kebocoran arus listrik
harus dibatasi sekecil-kecilnya (tidak melampui batas yang telah ditentukan
oleh peraturan yang berlaku).
2).
Sifat Mekanis isolator
Mengingat
luasnya pemakaian bahan penyekat, maka dipertimbangkan kekuatan struktur
bahannya. Dengan demikian, dapat dibatasi hal-hal penyebab kerusakan
dikarenakan kesalahan pemakaiannya. Misal diperlukan bahan yang tahan tarikan,
maka kita harus menggunakan bahan dari kain daripada kertas. Bahan kain lebih
kuat terhadap tarikan daripada bahan kertas.
3). Sifat Termis isolator
Panas yang
ditimbulkan dari dalam oleh arus listrik atau oleh arus gaya magnet,
berpengaruh terhadap kekuatan bahan penyekat. Demikian panas yang berasal dari
luar (alam sekitar). Dalam hal ini, kalau panas yang ditimbulkan cukup tinggi,
maka penyekat yang digunakan harus tepat. Adanya panas juga harus
dipertimbangkan, agar tidak merusak bahan penyekat yang digunakan.
4). Sifat Kimia
isolator
Panas yang
tinggi yang diterima oleh bahan penyekat dapat mengakibatkan perubahan susunan
bahan kimia . Demikian juga pengaruh adanya kelembaban udara, basah yang ada di
sekitar bahan penyekat. Jika kelembaban tidak dapat dihindari, haruslah dipilih
bahan penyekat yang tahan terhadap air. Demikian juga adanya zat-zat lain dapat
merusak struktur kimia bahan. Mengingat adanya bermacam-macam asal, sifat dan
ciri bahan penyekat, maka untuk memudahkan kita dalam memilih untuk aplikasi
dalam kelistrikan, kita akan membagi bahan penyekat berdasar kelompoknya.
Pembagian kelompok bahan penyekat adalah sebagai berikut:
a). Bahan tambang (batu pualam, asbes, mika,
dan sebagainya)
b). Bahan berserat (benang, kain, kertas,
prespon, kayu, dan sebagainya)
c). Gelas dan keramik
d). Plastic
e). Karet, bakelit, ebonit, dan
sebagainya
f). Bahan yang dipadatkan.
Sesuai dengan penggunaanya bahan tahanan haruslah memiliki tahanan
jenis yang tinggi, koefisien temperatur yang tinggi, dan memiliki daya
elektro-motoris termo yang kecil. Pada penggunaan yang membutuhkan daya tahan
panas tinggi, bahan tahanan harus dipilih yang memiliki titik cair yang tinggi,
selain itu bahan tahanan. pada keadaan panas yang tinggi tidak mudah dioksidir
sehingga menjadi berkarat.
D. Kenapa tidak dapat menghantarkan
arus listrik ?
karena dalam bahan yang bersifat
isolator seluruh lintasan elektronnya memiliki ikatan yang kuat dengan intinya
atau dengan kata lain pada bahan isolator tidak mempunyai elektron bebas
sehingga walau diberi tegangan listrik tidak akan membuat elektron - elektronnya
bergerak.
E. BAHAN
ISOLATOR PADAT
Karet
tahan terhadap keretakan, memiliki daya lengket yang tinggi terhadap bahan,
Karet merupakan salah satu bahan teknik non-logam yang mana Indonesia sendiri
menjadi salah satu produsen terbesar di dunia. Menurut bahan bakunya, karet
dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu karet alam dan karet sintesis. Karet
alam didapat dari bahan baku lateks, yaitu hasil penyadapan dari getah pohon
karet, sedangkan karet sintesis merupakan karet buatan yang dibuat dari minyak
bumi, batu bara, dan gas alam. Keduanya memiliki kelebihan masing-masing,
kelebihan dari karet alam adalah sebagai berikut: memiliki daya elastisitas dan
plastisitas yang baik, pengolahannya mudah, tidak mudah ausserta tidak mudah panas.Karet alam
biasanya digunakan untuk membuat ban pesawat terbang dan ban mobil balap.
Sedangkan karet sintesis memiliki kelebihan sebagai berikut, ia tahan terhadap
berbagai zat kimia, harganya cenderung stabil, serta pengirimannya jarang
mengalami kesulitan. Jenis beberapa karet sintesis antara lain adalah sebagai
berikut, IIR, NBR, EPR, CR
F. Pembagian
bahan Isolator yang bersifat padat
1. Bahan Tambang
Bahan tambang adalah bahan yang berasal dan terdapat dari
penggalian dalam tanah dalam bentuk bijih (seperti besi, seng, bongkahan batu :
pualam, batu tulis, dll.) yang harus diproses dahulu untuk mendapatkan bahan
yang dikehendaki. Beberapa macam bahan tambang tersebut antara lain :
·
Batu pualam, yaitu batu
kapur (CaCo3) atau dolomit merupakan bongkahan batu besar yang dipotong-potong
menjadi lempengan tebal dengan ukuran tertentu.
·
Asbes, yaitu bahan
berserat, tidak kuat dan mudah putus, dan sebenarnya kuat baik digunakan untuk isolator listrik..
·
Mika, yaitu mempunyai
sifat-sifat teknis yang baik, sehingga banyak digunakan sebagai bahan isolator.
·
Mikanit, yaitu Mika
yang telah mendapat perubahan bentuk maupun susunan bahannya sesuai kebutuhan.
Tujuan melapis mika dan terkadang dengan tambahan kain, kertas atau pita adalah
untuk memperoleh tebal yang dikehendaki agar dapat mempertinggi daya sekat
listrik, dan untuk menanbah kekuatan mekanis agar tidak retak jika digulung
atau dilipat.
·
Mikafolium, yaitu sejenis
mikanit dan sebagai bahan menggunakan mika yang ditaburkan di atas lapisan
kertas tipis dengan perekat pernis dan bahan sintetis lain. Mikafolium mudah
dibengkokan dengan cara pemanasan, dan bahan ini digunakan sebagai isolator
untuk pembungkus kawat atau batang lilitan pada mesin-mesin listrik tegangan
tinggi.
·
Mikalek, yaitu dengan menggunakan gelas dan plastik sebagai bahan
dasar, bubuk mika sebagai pengisi dan ditambah perekat pernis kemudian dicetak.
Pengepresan cetakan membutuhkan suhu yang tinggi untuk dapat melunakan gelas,
sehingga bahan ini mempunyai kekuatan mekanis yang tinggi.
·
Batu tulis, yaitu merupakan
bahan isolator dengan bentuk berlapis -lapis dan mudah dibelah-belah dengan
pahat atau martil. Batu tulis ini tidak dapat digosok halus seperti pualam,
mempunyai mekanis kuat sebagai isolator, tetapi kurang menarik dan dapat
menyerap air. Walaupun lebih tahan terhadap asam dan panas tetapi bahan ini
sudah jarang dipakai.
·
Phlogopite, yaitu batu ambar
mika yang mengandung kalium, silikat magnesium aluminium yang berasal dari
kanada dan madagaskar. Sedangkan Muscivite
adalah mika putih yang mengandung kalium, silikat aluminium yang
merupakan salah satu bahan isolator terbaik karena lebih kuat, lebih keras,
lebih fleksibel daripada Phlogopite dan juga tahan terhadap asam dan zat
alkali.
2.
Bahan Berserat
Bahan dasar yang dipergunakan untuk bahan berserat berasal
dari tiga macam, yaitu tumbuh-tumbuhan, binatang, dan bahan tiruan (sintetis).
Sebenarnya bahan ini kurang baik sebagai bahan isolator listrik karena sifatnya
sangat menyerap cairan, sedangkan cairan itu dapat merusak isolator yang
menyebabkan daya sekatnya menurun. Tetapi karena faktor-faktor lain seperti :
bahan berlimpah sehingga murah harganya; daya mekanisnya cukup kuat dan
fleksibel; dan dengan disusun berlapis lapis dan dicampur dengan zat-zat
tertentu untuk meningkatkan daya sekat, daya mekanis dan daya tahan panas,
sehingga bahan berserat ini banyak dipakai sebagai isolator listrik.
Beberapa bahan
yang termasuk bahan berserat, antara lain :
·
Benang
Benang
merupakan hasil pemintalan pertama dari sebuah kapas yang berserat cukup
panjang, setelah biji-bijinya yang menempel dipisahkan terlebih dahulu. Dari
kumpulan benang ini dapat dibuat tali, pita, dan kain tenun, yang selanjutnya
disebut dengan tekstil. Dalam bidang kelistrikan banyak digunakan sebagai
isolator kawat. Pemakaian benang banyak dipakai untuk isolator kawat halus
yang digunakan dalam pembuatan pesawat-pesawat cermat seperti pengukuran
listrik. Sekarang banyak digunakan benang sintetis dari bahan plastik, gelas,
dan sebagainya karena lebih kuat dan tahan panas.
·
Tekstil
Dengan menenun
benang menjadi tekstil (pita dan kain dengan berbagai macam corak, ukuran dan
kualitas) maksudnya adalah untuk memperoleh isolator yang lebih baik, yaitu
pertama lebih kuat, dan kedua dalam beberapa hal mempermudah teknis pelaksanaan
(membalut lilitan isolator kawat). Selain tekstil dari kapas, ada juga dari
serat yumbuh-yumbuhan yang dikenal dengan nama lena (linnen). Bahan ini lebih kuat daripada kertas. Pada tekstil
ini ada yang terbuat dari bahan tiruan (sintetis), dimana bahan ini
digunakan dalam bidang kelistrikan sebagai isolator kawat-kawat lilitan mesin
listrik, pengikat, dan sebagainya. Karena sifat tekstil ini dapat menyerap
cairan, maka untuk memperbaiki daya sekatnya dilapisi atau dicelup ke dalam
cairan lak isolator.
·
Kertas
Bahan dasar
kertas adalah selulosa, dimana bahan ini adalah zat sel tumbuh-tumbuhan yang
terdapat antara kulit dan batangnya. Selulosa ini berserat, fleksibel, lunak
dan menyerap air, sedangkan bahan pembuat kertasnya diambil dari
kayu, merang, rami, majun (sisa bahan tekstil), dan lain-lain. Kertas yang
terlalu kering atau lembab, kekuatan isolatornya berkurang karena kertas sangat
menyerap cairan, sehingga untuk mengatasinya kertas dilapisi lak isolator.
Penggunaan kertas untuk isolator selain sebagai pembalut lilitan kawat dan
kumparan, juga untuk isolator kabel dan kondensator kertas. Untuk memenuhi
tebal yang diharapkan kertas dibuat berlapis -lapis.
·
Prespan
Prespan juga
sebetulnya kertas, karena bahan dasarnya sama hanya berbeda sifatsifatnya saja.
Dibandingkan dengan kertas, prespan lebih padat sehingga kurang menyerap air.
Padat karena pembuatannya ditekan dengan tegangan tinggi sehingga lebih keras
dan lebih kuat, tetapi dapat dibengkokan dengan tidak retak-retak sehingga baik
sekali untuk isolator alur stator atau rotor mes in listrik, juga pada
transformator sebagai isolator lilitan dan kawatnya. Prespan ini di pasaran
berbentuk lembaran atau gulungan dengan ukuran tebal antara 0,1 sampai 5 mm,
warnanya kekuning-kuningan, coklat muda atau abu. Karena daya menyerap air
masih ada, maka dalam pelaksanaannya selalu masih perlu dilapisi lak isolator.
·
Kayu
Pada
tahun-tahun yang silam, kayu banyak digunakan sebagai isolator misalnya untuk
tiang listrik, karena terdapat dimana-mana dan harganya murah. Sekarang kayu
banyak terdesak oleh besi, beton, dan bahan sintetis. Kelebihan kayu adalah
kekuatan mekanisnya cukup tinggi tergantung dari macam dan kerasnya kayu,
tetapi kelemahannya adalah menyerap air, dapat rusak karena hama dan penyakit
serangga sehingga mudah rapuh. Supaya daya tahan lama, maka kayu harus
diawetkan lebih dahulu.
·
Fiber Pulkanisir
Proses
pembuatan bahan ini sebelum digulung pada silinder baja, kertas dilewatkan melalui
larutan chlorida seng (ZnCl2) yang panas. Tiap lapisan direkatkan dengan
perekat sampai mencapai tebal lapisan yang dikehendaki pada gulungan tersebut.
Pembersihan kembali zat chlorida seng dilakukan dengan air bersih, kemudian di
pres menjadi lembaran, papan, atau dibuat pipa dengan tebal antara 0,5 sampai
25 mm. Bahan ini kuat sekali, tetapi menyerap air sehingga sebelumnya dilapis
dahulu dengan parapin, minyak transformator atau zat lain serupa.
·
Kain Pernis
Bahan kain yang
telah dipernis sering disebut dengan cambric. Kelebihan bahan ini adalah
fleksibel, kekuatan mekanisnya tinggi sedangkan lapisan pernisnya merupakan
isolator listrik yang baik. Sehingga daya isolator semacam ini sangat luas
digunakan pada pekerjaan mesin listrik, peralatan, serta kabel listrik selain
dijadikan pita dan pembalut. Macam isolator ini dapat digunakan untuk suhu
sekitar 1000C, dengan bahan sintetis seperti polyester dan polyamid. Kain
pernisan dijual dalam gulungan dengan lebar kira-kira 1 yard dan panjang antara
45 yard sampai 90 yard.
·
Pita Isolator
Bahan ini
banyak digunakan dalam bidang instalasi listrik, yang merupakan pita isolator
dengan campuran karet dalam gulungan kecil antara 1 dan 5 cm lebar dan garis tengah
luar kira-kira 15 cm. Tebal pita kira-kira 0,25 mm. Sekarang banyak pita
perekat terbuat dari bahan sintetis kuat dan tidak menyerap air, tetapi tidak
untuk suhu yang tinggi.
3. Gelas dan Keramik
·
Gelas
Gelar merupakan
isolator yang baik untuk arus listrik, tetapi kekuatan mekanisnya kecil dan
sangat rapuh tidak seperti bahan keramik. Pemakaian dalam teknik listrik antara
lain untuk pembuatan bola lampu pijar, termometer-kontak (untuk mengontrol suhu
tertentu suatu tenpat seperti tempat penetasan telur), dan lain-lain. Untuk
hiasan penerangan listrik banyak dipakai ornamen kaca yang dibuat dari kaca
susu, kaca kabur (matglas) dan kaca opal, yang dalam perdagangan terdapat
bermacam-macam bahan gelas seperti gelas kristal, gelas kali, gelas natron, dan
gelas flint. Bahan baku pembuatan gelas adalah kuarsa dan kapur yang
dicairkan bersama-sama dengan bahan lainnya. Paduan kuarsa dengan oksida timbel
menghasilkan gelas kristal, bahan baku ditambah dengan potas menghasilkan gelas
kali, dan penambahan soda menghasilkan gelas natron. Pengerjaan bahan baku di
atas biasanya dipanaskan sampai + 20000C, sehingga menjadi encer dan baru
dikerjakan.
·
Keramik
Keramik didapat
dari bahan galian dengan melalui proses pemanasan, kemudian dijadikan barang
keramik, seperti cangkir teko, dalam teknik listrik digunakan untuk isolator
loceng dan mantal. Keramik yang digunakan untuk keperluan teknik listrik harus
mempunyai daya sekat yang besar dan dapat menahan gaya mekanis yang besar
seperti porselin dan steatit. Bahan isolator dari porselin seperti: isolator
lonceng, isolator mantel, isolator cincin, isolator tegangan tinggi, sekering
pipa porselin, dan lain-lain. Sedangkan bahan isolator terbuat dari steatit,
antara lain: sakelar, kontak tusuk, manik-manik isolator kawat penghubung yang
dapat melentur (fleksibel) dan letaknya berdekatan dengan alat pemanas listrik,
untuk pembuatan bumbung penerus (tube), pena-kontak -baut, badan alat-alat
pemanas seperti kompor listrik, seterika, dan lain-lain.
4. Plastik
Plastik merupakan paduan dari dua bahan
yaitu bahan perekat (seperti damar atau resin) dan bitumin dengan bahan pengisi
serbuk batu, serbuk kayu dan katun. Menurut paduannya, ada bermacam-macam bahan
plastik, diantaranya bakelit. Ada dua jenis plastik yang perlu kita
ketahui, yaitu:
·
Thermoplastik. Bahan ini pada suhu 600C sudah menjadi lunak, dan
pemanasan sampai mencair tidak merubah struktur kimiawi
·
Thermosetting plastik. Bahan ini setelah mengalami proses pencairan dan cicetak
menjadi barang akan mengalami perubahan struktur kimiawi, hingga tidak dapat
lunak lagi walaupun dipanaskan. Beberapa bahan pengisi paduan dalam pembuatan
plastik selain yang telah disebutkan di atas, antara lain : mika, alpha
selulosa, kain kapas, kertas, asbes, grafit, karbon, dan kanvas.
5. Bahan Dipadatkan
Bahan isolator yang dipadatkan mula-mula cair kemudian
dijadikan padat. Bahan ini banyak dipakai sebagai pelapis, pengisi, pemadatan
(inpregnasi) dan perekat bahan isolator padat. Beberapa bahan yang dipadatkan
antara lain: lilin dengan parafin; damar (gondorukem, arpus); bitumin;
bahan-bahan pelarut seperti: kerosin (minyak tanah), gasolin, spiritus putih,
bensin, methanol (methyl alkohol), ethanol (ethyl alkohol), aceton, minyak terpentin,
dll.; minyak pengering (minyak biji lena dan minyak Tung); pernis (pernis
minyak, pernis hitam, lak selulosa, pernis bakelit, pernis sirlak, pernis
gliptal); dan kompon (kompon bitumin, kompon kuarsa, dan kompon kabel).
6. Bahan Isolasi PVC
Polivinilklorida atau PVC adalah hasil polimerisasi dari
vinilklorida H2C = CHCl. Pada proses polimerisasi, ikatan ganda yang melekat
pada molekul vinilklorida diubah menjadi ikatan tunggal. Ikatan yang bebas
kemudian mengikat molekul-molekul vinilklorida lain sehingga timbul
molekul-molekul makro panjang, yaitu PVC :
Pada suhu kamar
PVC ini keras dan rapuh, dan supaya dapat digunakan sebagai bahan isolasi
kabel, PVC harus dicampur dengan bahan pelunak (plasticiser). Bahan lunak yang
dicampur umumnya sebanyak 20 % hingga 40 % kadang-kadang bahkan lebih, dan
hasil campuran ini disebut kompon PVC. Untuk membedakan PVC yang belum dicampur
dinamakan damar PVC (PVC resin). Kompon PVC kabel ini harus digunakan bahan
pelunak dengan sifat-sifat listrik yang baik, tidak boleh menguap, dan tidak
boleh menjalarkan nyala api. Damar PVC sendiri walaupun dapat dibakar, tetapi
akan padam sendiri apabila sumber apinya disingkirkan. Berat jenis damar PVC
sekitar 1,4 tergantung jenis dan banyaknya bahan yang dicampurkan, sedangkan
berat jenis kompon PVC berkisar antara 1,25 – 1,55. Damar PVC memiliki
ketahanan cukup baik terhadap sejumlah besar bahan kimia lain, dan dengan
menggunakan bahan pelunak yang tepat dapat diciptakan kompon PVC yang tahan
terhadap bahan kimia tertentu. Salah satu kelemahan kompon PVC akibat digunakan
bahan pelunak adalah ketahanan terhadap tekanan, yaitu kalau ditekan cukup lama
dan cukup kuat kompon PVC tidak dapat pulih dan makin tinggi suhunya makin
kurang ketahanan terhadap tekanan tersebut. Umumnya kompon PVC hanya dapat
digunakan sampai suhu 700 C terus menerus. Tetapi dengan menggunakan bahan
pelunak khusus dapat dibuah sampai suhu lebih tinggi sampai 1050C.
7. Polietilen atau PE
Polietilen atau
PE adalah hasil polimerisasi dari etilen H2C = CH2, dengan sifat sifat listrik
lebih baik dari pada yang dimiliki PVC. Hanya PE lebih mudah terbakar. Kalau PE
dibakar, nyala apinya akan tetap menjalan, juga setelah sumber apinya
disingkirkan. Karena itu PE hampir tidak digunakan untuk kabel-kabel arus kuat,
kecuali XLPE (crosslinked polyethylene). Karena sifat PE yang baik pada
frekuensi tinggi, maka banyak digunakan untuk kabelkabel telekomunikasi.
Kelebihan PE dibanding PVC adalah tidak lebih mudah menyerap air, dan kalau
digunakan di tempat yang lembab atau basah, tahanan isolasi PVC akan lebih menurun dibandingkan dengan PE.
8. Karet, Ebonit dan Bakelit
·
Ebonit
Bahan dasar
ebonit adalah karet dan untuk mendapatkan kekerasan dicampur dengan belerang
dan bahan tambahan lainnya sekitar 30 sampai 50 % dengan melalui proses
vulkanisasi yang lama. Dalam perdagangan ebonit berbentuk lempeng, batang atau
pipa dengan bermacam-macam ukuran.
·
Bakelit
Bakelit adalah
bahan paduan secara kimia bermacam -macam zat yang pertama dibuat oleh
perusahaan Bakelit Co., yang kemudian dibuat oleh perusahaan lain dengan nama
sendiri-sendiri, seperti perusahaan Philips dari Belanda dengan nama philite,
perusahaan Hasemeir dengan nama hajalite yang dikenal dengan nama bakelit.
·
Karet
Karet merupakan
bahan penting untuk isolator dalam teknik listrik yang terbuat dari getah
bermacam-macam pohon karet, salah satu diantaranya : Hevea Braziliensis yang
menghasilkan karet terbanyak dengan kualitas tinggi. Proses penyampuran karet
kasar dengan belerang dan bahan tambahan lainnya dibeut vulkanisasi.
Untuk mendapatkan vulkanisasi yang baik dengan cara pemanasan uap, karena
tekanan uap dpat mencegah terjadinya pori dalam masa yang divulkanisir, sedang
pemanasannya dapat berjalan teratur. Bahan perekat untuk kulit, karet dan sebagainya
dapat dibuat dari karet kasar dicampur dengan bensin atau bensol. Karet kasar
juga merupakan bahan untuk pembuatan pita isolator (dibuat dari bahan katun,
dicelupkan dalam larutan karet kasar untuk memberi gaya perekat pada pita
tersebut. Pita isolator ini dapat dipakai untuk menyekat tempat sambungan
kawat, ujung kabel nadi dan batu mahkota, serta dalam industri mobil. Dalam
teknik listrik karet sebagai isolator hantaran listrik, sepatu kabel, perkakas
pemasangan instakasi kistrik, dll.
G.
Kegagalan isolasi
padat
1. Kegagalan asasi (intrinsik) terjadi jika diterapkan tegangan tinggi pada
lapisan dielektrik yang tipis. Hal ini terjadi pada waktu yang singkat dan
disebabkan karena medan listrik yang tinggi di mana elektron mendapat energi
dari tegangan luar sehingga melintasi celah yang terlarang sampai ke lapisan
konduksi. Sifat kegagaln ini adalah :
·
Terjadi pada
suhu yang rendah, suhu kamar atau lebih rendah. Kekuatan kegagalan tidak
bergantung pada bentuk gelombang dari tegangan yang diterapkan dan terjadi pada
waktu yang singkat.
·
Kegagalan
bergantung pada bentuk, besar dari spesimen dan bentuk dari kegagalan.
2. Kegagalan
elektromekanik adalah kegagalan yang disebabkan oleh adanya perbedaan
polaritas antara elektroda yang mengapit zat isolasi padat sehingga timbul
tekanan listrik pada bahan tersebut. Tekanan listrik yang terjadi menimbulkan tekanan mekanik
yang menyebabkan timbulnya tarik menarik antara kedua elektroda tersebut. Pada
tegangan 106 volt/cm menimbulkan tekanan mekanik
2 s.d 6 kg/cm2. Tekanan atau tarikan mekanis ini
berupa gaya yang bekerja pada zat padat berhubungan dengan Modulus Young.
3. Kegagalan
Streamer
Untuk mendapatkan kegagalan streamer,
ujung katoda haru dimasukkan dalam isolasi yang akan diuji. Bila elektroda
ditempatkan pada permukaan bahan isolasi maka elektron dari katoda akan
menembus ke anoda melewati dua medium, yaitu medium udara diperbatasan dan
langsung melewati dielektrik. Karena permitivitas udara lebih kecil dari
elektrik, kegagalan ini terjadi lebih awal daripada dielektrik. Kegagalan
dielektrik tidak berbentuk discharge tunggal tapi berbentuk pohon yang
bercabang yang dinamakan “linchtenberger tree” di mana proses terjadinya
sangat singkat ( detik hingga beberapa menit ).
4. Kegagalan
Termal
Umumnya terjadi karena panas disebabkan
kerugian dielektrik. Panas sebagaian dipakai untuk menaikkkan suhu dari bahan
dielekrik dan sebagian hilang di udara. Kenaikan suhu menyebabkan konduktivitas
naik. Kriterianya adalah sebgai berikut:
·
Terjadi pada suhu tinggi
·
Kekuatan medan pada waktu terjadinya
kegagalan tergantung pada bentuk dan besarnya isolasi
·
Waktu yang diperlukan untuk kegagalan
adalah dalam milidetik
·
Pada medan bolak balik harga tegangan
gagal lebih kecil dari medan yang tetap karena kerugian daya bertambah
·
Pada medan bolak-balik, panas yang
terjadi adalah
·
Pada medan arus searah, panas yang
terjadi adalah
5. Kegagalan Erosi
Pada pembuatan suatu isolasi dari kabel bawah tanah dan alat
lainnya kadang-kadang tidak sempurna, sehingga sering terdapat rongga dalam
isolasi. Rongga ini berisi udara atau benda lain, yang mempunyai kekuatan medan
atau kekuatan dielektrik yang berbeda dengan kekuatan dielektrik dari bahan
isolasi. Bila rongga berisi udara maka akan terdapat konsentrasi medan listrik.
Karena itu, pada nilai tegangan normal kekuatan medan pada rongga dapat
bernilai melebihi kekuatan kegagalan, sehingga dapat menyebabkan terjadinya
kegagalan. Kekuatan medan dalam reongga ditentukan oleh perbandingan dari
permitivitas dan bentuk rongga. Pada setiap pelepasan muatan terjadilah panas,
dan lama kelamaan muka dari rongga akan terjadi karbonisasi dan dapat merusak
susunan kimia isolasi dan terjadinya erosi. Mason dan Krueger melakukan
percobaan pada suatu spesimen berbentuk persegi panjang. Benda dibagi menjadi
dua bagian, yaitu bagian yang terdapat rongga dan bagian yang tidak rongga.( Pawiloi,
Asrul. 2010. P. 6-9 )
Kegagalan yang terjadi pada praktek :
1.
Kegagalan
Kimia dan Elektro Kimia
Kehadiran udara
dan gas lainnya menyebabkan bahan isolasi padat mangalami perubahan struktur
secara kimiawi yang dapat berlanjut pada tekanan listrik secara terus menerus
yang pada akhirnya menyebabkan kegagalan isolasi. Beberapa reaksi kimia penting
yang terjadi adalah :
·
Oksidasi
: Kehadiran udara atau oksigen, pada
material padat seperti karet dan polyethilene mengalami oksidasi yang dapat
meyebabkan keretakan pada permukaan isolator.
·
Hidrolisis : Ketika uap air dan embun muncul
di atas permukaan suatu material padat, maka hidrolisis akan terjadi dan
material tersebut dan menyebabkan material akan kehilangan atau berkurang sifat
listrik maupun sifat mekanisnya. Hidrolisis biasanya terjadi pada material
padat seperti kertas, kain dan beberapa material seluler akan mengalami
perubahan sifat kimiawi yang sangat cepat. Perubahan kimia (hidrolisis)
juga terjadi pada material padat lainnya seperti plastik (polyethilene)
yang menyebabkan penurunan umur pakai dari material tersebut (aging).
·
Aksi Kimiawi. Meskipun
tidak terdapat medan listrik yang tinggi, namun peningkatan penurunan sifat
kimia pada material isolasi dapat menyebabkan terjadinya berbagai proses
material isolasi dapat menyebabkan terjadinya berbagai proses ketidakstabilan
kimiawi karena adanya temperatur yang tinggi, oksidasi maupun terbentuknya
ozon. Meskipun material isolasi padat digunakan pada berbagai kepentingan
penggunaan dan kondisi yang berbeda, reaksi kimia akan terjadi pada berbagai
material yang dapat mandorong terjadinya penurunan sifat listrik maupun sifat
mekanis yang pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya kegagalan isolasi.
Efek elektro-kimia dan penurunan sifat kimia material dapat
diperkecil dengan cara mengkaji lebih mendalam dan melakukan pengujian material
secara lebih berhati-hati. Isolatornya yang terbuat dari bahan glass (campuran
sodium) harus dihindarkan dari keadaan udara lembab dan basah, sebab sodium
dapat menyebabkan keadaan menjadi tidak stabil, sehingga soda yang dilepaskan ke
permukaan akan menimbulkan pembentukan suatu alkali kuat yang akan menyebabkan
penurunan sifat material secara menyeluruh.
2.
Kegagalan Tracking
dan Treeing
Jika suatu bahan isolasi padat diterapkan tekanan listrik
dalam jangka waktu yang lama maka akan mengalami kegagalan. Secara umum,
terdapat dua gejala yang dapat diamati pada material tersebut, yaitu: (a)
Adanya bagian konduksi pada permukaan isolator. (b) Suatu mekanisme yang
bekerja yang menyebabkan arus bocor melalui bagian konduksi yang pada akhirnya
mendorong ke arah pembentukan suatu percikan (discharge). Percikan yang
terjadi akan menyebar selama proses penjejakan karbon (tracking) dan
membentuk cabang-cabang yang menyerupai pohon (pepohonan) yang dikenal
dengan istilah “treeting”.
Fenomena pepohonan listrik (treeing) dapat
dijelaskan dengan menggunakan sebuah spesimen (conducting film) yang
diletakkan di antara dua elektroda. Dalam prakteknya, spesimen tersebut
diberikan suatu cairan pelembab kemudian diterapkan tegangan, dan dalam waktu
tertentu pada permukaan spesimen akan mengalami kekeringan. Pada saat yang sama
terjadi percikan yang dapat menyebabkan kerusakan pada permukaan material. Pada
material padat seperti kertas, akan terbentuk karbonisasi di daerah terjadinya
percikan api, dan selanjutnya karbonisasi yang terbentuk akan bertindak sebagai
saluran konduksi permanen yang kemudiannya dapat meningkatkan tekanan yang
berlebihan. Proses ini adalah merupakan proses kumulatif, dan isolator
mengalami kegagalan akibat terjadinya jembatan karbon diantara elektroda.
Fenomena ini dikenal dengan istilah “tracking”.
Pada sisi yang lain, treeing terjadi karena erosi dari
material pada ujung percikan. Erosi mengakibatkan permukaan menjadi kasar, dan
oleh sebab itu dapat menjadi sumber pengotoran dan pencemaran. Kejadian ini
akan meningkatkan konduktivitas, dan pada sisi yang lain akan membentuk
jembatan antara bagian konduksi tadi dengan elektroda yang selanjutnya
mengakibatkan kegagalan mekanik (keretakan ) pada bahan isolator.
Umumnya, tracking terjadi pada tegangan yang
rendah yaitu sekitar 100 V, sedang treeing terjadi pada tegangan tinggi.
Treeing dapat dicegah melalui usaha membersihkan permukaan material,
menciptakan keadaan kering, dan pada permukaan yang halus (yang tidak terjadi
kekasaran permukaan). Oleh karena itu pemilihan material harus didasarkan pada
material yang mempunyai resistansi yang tinggi terhadap fenomena “treeing”.
H. Proses Pembuatan Bahan Karet
Polymerization
Polymerisasi ialah merupakan proses awal dari pembuatan karet sintetik, pada tahap ini ada tiga motode yang digunakan yaitu emulsion, microemulsion, and suspension polymerization. Proses ini dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar sekelas Du Pont, Dow, GE, Ausimont, Daikin and Dyneon.
Isolation
Pada tahap ini, backbone polymers diisolasi, dikeringkan, dan dibersihkan. Setelah tahap ini, maka polimer tersebut sudah siap untuk diolah oleh compounder.
Compounding (mixing)
Tahap ini merupakan tahap yang paling penting dalam menentukan sifat2 tambahan dari suatu polimer/karet. Karena pada tahap inilah compounder meracik resepnya untuk menghasilkan bahan baku yang sesuai keinginannya/pesanan. Pengalaman dan pengetahuan compounder pada tahap ini sangat krusial untuk menghasilkan material yang berkualitas.
Extrusion/Forming/Premolding
Setelah selesai di mixing, maka material yang masih berbentuk lembaran dibentuk lagi menyerupai produk akhir supaya dapat dengan mudah diproses pada molding nantinya. misalnya untuk O-Ring, material tersebut dibentuk menyerupai kabel panjang.
Polymerisasi ialah merupakan proses awal dari pembuatan karet sintetik, pada tahap ini ada tiga motode yang digunakan yaitu emulsion, microemulsion, and suspension polymerization. Proses ini dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar sekelas Du Pont, Dow, GE, Ausimont, Daikin and Dyneon.
Isolation
Pada tahap ini, backbone polymers diisolasi, dikeringkan, dan dibersihkan. Setelah tahap ini, maka polimer tersebut sudah siap untuk diolah oleh compounder.
Compounding (mixing)
Tahap ini merupakan tahap yang paling penting dalam menentukan sifat2 tambahan dari suatu polimer/karet. Karena pada tahap inilah compounder meracik resepnya untuk menghasilkan bahan baku yang sesuai keinginannya/pesanan. Pengalaman dan pengetahuan compounder pada tahap ini sangat krusial untuk menghasilkan material yang berkualitas.
Extrusion/Forming/Premolding
Setelah selesai di mixing, maka material yang masih berbentuk lembaran dibentuk lagi menyerupai produk akhir supaya dapat dengan mudah diproses pada molding nantinya. misalnya untuk O-Ring, material tersebut dibentuk menyerupai kabel panjang.
Molding
Proses inilah yang menentukan akan berbentuk seperti apakah produk akhir. dengan kombinasi panas dan tekanan yang sesuai, maka akan didapat produk akhir yang sempurna.
Flash Removal
Setelah dari proses molding, biasanya pada produk masih terdapat sisa-sisa material yang menempel, pada tahap ini sisa-sisa tersebut dipisahkan sehingga didapat produk akhir yang sesusai dengan cetakan.
Post Curing
Terkadang pada tahap molding tidak semua proses kimia dapat terjadi dengan sempurna, sehingga untuk menghabiskan sisa-sisanya dilakukan proses curing.
Proses inilah yang menentukan akan berbentuk seperti apakah produk akhir. dengan kombinasi panas dan tekanan yang sesuai, maka akan didapat produk akhir yang sempurna.
Flash Removal
Setelah dari proses molding, biasanya pada produk masih terdapat sisa-sisa material yang menempel, pada tahap ini sisa-sisa tersebut dipisahkan sehingga didapat produk akhir yang sesusai dengan cetakan.
Post Curing
Terkadang pada tahap molding tidak semua proses kimia dapat terjadi dengan sempurna, sehingga untuk menghabiskan sisa-sisanya dilakukan proses curing.
Finishing
& Inspection
Setelah selesai diproses, maka produk akhir hendaknya dibersihkan dan dilakukan pengetesan apakah sudah sesuai dengan harapan atau tidak.
Cleaning
Semua proses telah selesai dan produk akhir yang didapat telah sempurna, maka produk tersebut dicuci bersih dari kotoran-kotoran yang mungkin menempel pada proses produksi sebelumnya.
Packaging
Setelah produk akhir sudah bersih, dan siap untuk dikirim/disimpan. sebaiknya dimasukan kemasan agar tidak terkontaminasi dari lingkungan luar.
Setelah selesai diproses, maka produk akhir hendaknya dibersihkan dan dilakukan pengetesan apakah sudah sesuai dengan harapan atau tidak.
Cleaning
Semua proses telah selesai dan produk akhir yang didapat telah sempurna, maka produk tersebut dicuci bersih dari kotoran-kotoran yang mungkin menempel pada proses produksi sebelumnya.
Packaging
Setelah produk akhir sudah bersih, dan siap untuk dikirim/disimpan. sebaiknya dimasukan kemasan agar tidak terkontaminasi dari lingkungan luar.
I. Bahan Baku Karet Alam Dan
Pembagiannya
Bahan
baku karet alam yang digunakan dalam dunia teknik didapatkan dengan cara melakukan
pengumpulan lateks di kebun (TPH) oleh para petani yang kemudian diangkut ke
pabrik. Bahan baku lateks akan tersedia setiap hari karena penyadapan selalu
dilakukan setiap hari.
Sumber bahan baku industri karet
berasal dari perkebunan karet baik Perkebunan Rakyat (PR), Perkebunan Negara
maupun Perkebunan Swasta. Pada perkebunan besar negara maupun swasta, bahan
baku yang dihasilkan (lateks) biasanya langsung diolah di pabrik sendiri atau
dikirim ke pabrik yang seinduk, sedangkan untuk prosesor yang tidak memiliki
kebun harus berusaha untuk mendapatkan bahan baku dari perkebunan karet rakyat,
baik melalui pembelian langsung ataupun melalui lelang yang diadakan pada
waktu-waktu tertentu.
Kondisi bahan baku industri karet
baik kuantitas, kualitas maupun kontinuitas pasokan dipengaruhi oleh sumber
bahan baku itu sendiri. Pada perkebunan besar hal ini tidak begitu menjadi
masalah. Bahan baku yang berasal dari perkebunan karet rakyat yang biasanya
sangat bervariasi kualitasnya.
Untuk
menjaga kualitas dan kontinuitas bahan baku, maka dilakukan pengawasan pada
tiap penyadap. Dari hasil penyadapan, dapat ditentukan.
- Bobot atau isi lateks : Penyadap menuangkan lateks dari ember-ember pengumpul ke dalam ember-ember takaran melalui sebuah saringan kasar dengan ukuran lubang 2 mm, maksudnya untuk menahan lump yang terjadi karena prakoagulasi.
- Kadar Karet Kering (KKK) : Penentuan kadar karet kering (KKK) sangat penting dalam usaha mencegah terjadinya kecurangan para penyadap.
Lateks sebagai bahan baku berbagai
hasil karet, harus memiliki kualitas yang baik. Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi kualitas lateks, sebagai berikut.
- Faktor dari kebun (jenis klon, sistem sadap, kebersihan pohon, dan lain-lain).
- Iklim (musim hujan mendorong terjadinya prakoagulasi, musim kemarau keadaan lateks tidak stabil).
- Alat-alat yang digunakan dalam pengumpulan dan pengangkutan (yang baik terbuat dari aluminium atau baja tahan karat).
- Pengangkutan (goncangan, keadaan tangki, jarak, jangka waktu).
- Kualitas air dalam pengolahan.
- Bahan-bahan kimia yang digunakan.
- Komposisi lateks.
Untuk mengetahui susunan bahan-bahan
yang terkandung dalam lateks dapat dilihat pada tabel Dari bahan-bahan yang
terkandung dalam lateks segar masih terdapat fraksi kuning latoid (2-10 ppm),
enzim peroksidase dan tyrozinase. Fraksi kuning dianggap normal bila mencapai
0,1-1,0 mg tiap 100 gram lateks kering.
·
Kandungan
Bahan-Bahan dalam Lateks Segar dan Lateks yang Dikeringkan
Bahan
|
Lateks Segar (%)
|
Lateks yang Dikeringkan (%)
|
Kandungan karet
|
35,62
|
88,28
|
Resin
|
1,65
|
4,10
|
Protein
|
2,03
|
5,04
|
Abu
|
0,70
|
0,84
|
Zat gula
|
0,34
|
0,84
|
Air
|
59,62
|
1,00
|
Sumber:
Setyamidjaja (1993)
Menurut
pengolahannya bahan olah karet dibagi menjadi 4 macam : lateks kebun, sheet
angin, slab tipis dan lump segar.
a.
Lateks kebun adalah cairan getah yang didapat dari bidang sadap pohon karet.
Cairan getah ini belum mengalami penggumpalan entah itu dengan tambahan atau
tanpa bahan pemantap ( zat anti koagulan). Lateks kebun mutu 1 mempunyai kadar
karet kering 28% dan lateks kebun mutu 2 mempunyai kadar karet kering 20%.
b.
Sheet angin adalah bahan olah karet yang dibuat dari lateks yang sudah disaring
dan digumpalkan dengan asam semut, berupa karet sheet yang sudah digiling
tetapi belum jadi. Sheet angin mutu 1 mempunyai kadar karet kering 90% dan
sheet angin mutu 2 mempunyai kadar karet kering 80%. Tingkat ketebalan pertama
3mm dan tingkat ketebalan kedua 5mm.
c.
Slab tipis adalah bahan olah karet yang terbuat dari lateks yang sudah
digumpalkan dengan asam semut. Slab tipis mutu 1 mempunyai kadar karet kering
70% dan slab tipis mutu 2 mempunyai
kadar karet kering 60%. Tingkat ketebalan pertama 30mm dan tingkat ketebalan
kedua 40mm
d.
Lump segar adalah bahan oalh karet yang bukan berasal dari gumpalan lateks
kebun yang terjadi secara ilmiah dalam amngkuk penampungan. Lump segar mutu 1
mempunyai kadar karet kering 60% dan lump segar mutu 2 mempunyai kadar karet
kering 50%. Tingkat ketebalan pertama 40mm dan tingkat ketebalan kedua 60mm.
·
Karet
Alam Konvensional
Ada beberapa
macam karet olahan yang tergolong karet alam konvensional. Jenis itu pada
dasarnya hanya terdiri dari golongan karet sheet dan crepe. Jenis-jenis karet
olahan yang tegolong konvensional beserta standar mutunya menurut Green Book
adalah sebagai berikut
a. Ribbed smoked seheet atau biasa disingkat RSS
adalah jenis karet berupa lembaran sheet yang mendapat proses pengasapan dengan
baik.
b.
White crepe dan pale crepe, jenis ini merupakan crepe yang berwarna putih atau
muda. White crepe dan pale crepe juga ada yang tebal dan tipis.
c.
Estate brown crepe, jenis ini merupakan crepe yang berwarna coklat. Disebut
estate brown crepe karena banyak dihasilkan oleh perkebunan-perkebunan besar
atau estate.
d.
Thin brown crepe remilis, jenis ini merupakan crepe coklat yang tipis karena
digiling ulang. Bahan pembuat crepe ini sama dengan bentuk crepe lain, tetepi
digiling lagi untuk menghasilkan crepe yang tebalnya sesuai dengan yang telah
ditentukan.
e. Combo crepe adalah jenis crepe yang dibuat dari
bahan lump,scrap pohon,potongan-potongan sisa dari RSS atau slab basah.
f.
Thick blanket crepes ambers, jenis ini merupakan crepe blanket yang tebal dan
berwarna coklat, biasanya dibuat dari slab basah, sheet tanpa proses
pengasapan, dan lump serta scrap dari perkebunan atau kebun rakyat yang baik
mutunya.
g.
Flat bark crepe, sebenarnya jenis ini merupakan karet tanah atau earth rubber,
yaitu jenis crepe yang dihasilkan dari scrap karet alam yang belum diolah,
termasuk scrap tanah yang berwarna hitam.
h.
Pure smoked blanket crepe jenis ini merupakan crepe yang diperoleh dari
penggilingan karet asap yang khusus berasal dari ribbed smoked sheet, termasuk
juga block sheet atau sheet bongkah atau dari sisa potongan ribbed smoked
sheet.
·
Lateks
pekat
Lateks pekat adalah
jenis karet yang berbentuk cairan pekat, tidak berbentuk lembaran atau padatan
lainnya. Lateks pekat yang dijual di pasaran ada yang dibuat melalui proses
pendadihan atau creamed lateks dan melalui proses pemusingan atau centrifuged
lateks biasanya lateks pekat banyak digunakan untuk pembuatan bahan-bahan karet
yang tipis dan bermutu tinggi. Standar mutu lateks pekat baik lateks pusingan
atau lateks dadih dapat dilihat pada tabel berikut ini.
·
Tabel
Standard Mutu Lateks Pekat
Lateks pusingan (Centrifugated
latex)
|
Lateks dadih (Creamed Latex)
|
|
1. Jumlah
padatan (total solids) minimum
2. Kadar
Karet Kering (KKK) minimum
3. Perbedaan
angka butir 1 dan 2 maksimum
4. Kadar
amoniak (berdasar jumlah air yang
terdapat dalam lateks pekat) minimum
5. Viskositas
maksimum pada suhu 25°C
6. Endapan
(sludge) dari berat basah maksimum
7. Kadar
koagulan dari jumlah padatan, maksimum
8. Bilangan
KOH (KOH number) maksimum
9. Kemantapan
mekanis (mechanical stability)
minimum
10. Persentase
kadar tembaga dari jumlah padatan maksimum
11. Persentase
kadar mangan dari jumlah padatan maksimum
12. Warna
13. Bau
setelah dinetralkan dengan asam borat
|
61,5%
60,0%
2,0%
1,6%
50 Centipoises 0,10%
0,08%
0,80
475 detik
0,001%
0,001%
Tidak biru Tidak kelabu
Tidak boleh Berbau
busuk
|
64,0%
62,0%
2,0%
1,6%
50 Centipoises
0,10%
0,08%
0,80
475 detik
0,001%
0,001%
Tidak biru Tidak
kelabu
Tidak boleh Berbau
busuk
|
Sumber : Thio Goan
Loo,1980.
J. Pengolahan Lateks
1. Penerimaan
Lateks Kebun
Tahap awal dalam pengolahan karet
adalah penerimaan lateks kebun dari pohon karet yang telah disadap. Lateks pada
mangkuk sadap dikumpulkan dalam suatu tempat kemudian disaring untuk memisahkan
kotoran serta bagian lateks yang telah mengalami prakoagulasi. Setelah proses
penerimaan selesai, lateks kemudian dialirkan ke dalam bak koagulasi untuk
proses pengenceran dengan air yang bertujuan untuk menyeragamkan Kadar Karet
Kering.
2. Pengenceran
Tujuan pengenceran adalah untuk memudahkan penyaringan kotoran serta menyeragamkan kadar karet kering sehingga cara pengolahan dan mutunya dapat dijaga tetap. Pengenceran dapat dilakukan dengan penambahan air yang bersih dan tidak mengandung unsur logam, pH air antara 5.8-8.0, kesadahan air maks. 6 serta kadar bikarbonat tidak melebihi 0.03 %. Pengenceran dilakukan hingga KKK mencapai 12-15 %. Lateks dari tangki penerimaan dialirkan melalui talang dengan terlebih dahulu disaring menggunakan saringan aluminium Pedoman Teknis Pengolahan Karet Sit Yang Diasap (Ribbed Smoked Sit). Lateks yang telah dibekukan dalam bentuk lembaran-lembaran (koagulum).
Tujuan pengenceran adalah untuk memudahkan penyaringan kotoran serta menyeragamkan kadar karet kering sehingga cara pengolahan dan mutunya dapat dijaga tetap. Pengenceran dapat dilakukan dengan penambahan air yang bersih dan tidak mengandung unsur logam, pH air antara 5.8-8.0, kesadahan air maks. 6 serta kadar bikarbonat tidak melebihi 0.03 %. Pengenceran dilakukan hingga KKK mencapai 12-15 %. Lateks dari tangki penerimaan dialirkan melalui talang dengan terlebih dahulu disaring menggunakan saringan aluminium Pedoman Teknis Pengolahan Karet Sit Yang Diasap (Ribbed Smoked Sit). Lateks yang telah dibekukan dalam bentuk lembaran-lembaran (koagulum).
3. Pembekuan
Pembekuan lateks dilakukan di dalam bak koagulasi dengan menambahkan zat koagulan yang bersifat asam. Pada umunya digunakan larutan asam format/asam semut atau asam asetat /asam cuka dengan konsentrasi 1-2% ke dalam lateks dengan dosis 4 ml/kg karet kering Dasar Pengolahan Karet. Jumlah tersebut dapat diperbesar jika di dalam lateks telah ditambahkan zat antikoagulan sebelumnya. Penggunaan asam semut didasarkan pada kemampuannya yang cukup baik dalam menurunkan pH lateks serta harga yang cukup terjangkau bagi petani karet dibandingkan bahan koagulan asam lainnya. Tujuan dari penambahan asam adalah untuk menurunkan pH lateks pada titik isoelektriknya sehingga lateks akan membeku atau berkoagulasi, yaitu pada pH antara 4.5-4.7. Asam dalam hal ini ion H+ akan bereaksi dengan ion OH- pada protein dan senyawa lainnya untuk menetralkan muatan listrik sehingga terjadi koagulasi pada lateks.
Pembekuan lateks dilakukan di dalam bak koagulasi dengan menambahkan zat koagulan yang bersifat asam. Pada umunya digunakan larutan asam format/asam semut atau asam asetat /asam cuka dengan konsentrasi 1-2% ke dalam lateks dengan dosis 4 ml/kg karet kering Dasar Pengolahan Karet. Jumlah tersebut dapat diperbesar jika di dalam lateks telah ditambahkan zat antikoagulan sebelumnya. Penggunaan asam semut didasarkan pada kemampuannya yang cukup baik dalam menurunkan pH lateks serta harga yang cukup terjangkau bagi petani karet dibandingkan bahan koagulan asam lainnya. Tujuan dari penambahan asam adalah untuk menurunkan pH lateks pada titik isoelektriknya sehingga lateks akan membeku atau berkoagulasi, yaitu pada pH antara 4.5-4.7. Asam dalam hal ini ion H+ akan bereaksi dengan ion OH- pada protein dan senyawa lainnya untuk menetralkan muatan listrik sehingga terjadi koagulasi pada lateks.
Penambahan larutan asam diikuti
dengan pengadukan agar tercampur ke dalam lateks secara merata serta membantu
mempercepat proses pembekuan. Pengadukan dilakukan dengan 6-10 kali maju dan
mundur secara perlahan untuk mencegah terbentuknya gelembung udara yang dapat
mempegaruhi mutu sit yang dihasilkan. Kecepatan penggumpalan dapat diatur
dengan mengubah perbandingan lateks, air dan asam sehingga diperoleh hasil
bekuan atau disebut juga koagulum yang bersih dan kuat. Lateks akan membeku
setelah 40 menit. Proses selanjutnya ialah pemasangan plat penyekat yang
berfungsi untuk membentuk koagulum dalam lembaran yang seragam.
a.
Bahan
Baku Karet Sintesis
Karet
buatan (sintetis) sebagian besar dibuat dengan mengandalkan bahan baku minyak
bumi. Pengembangan karet sintetis secara besar-besaran dilakukan sejak zaman
perang dunia II. Negara –negara industri maju merupakan pelopor berkembangnya
jenis-jenis karet sintetis. Sekarang banyak karet sintetis yang dikenal.
Biasanya tiap jenis memiliki sifat tersendiri yang khas. Ada jenis yang tahan
terhadap panas atau suhu tinggi, minyak, pengaruh udara, dan bahkan ada yang
kedap air.
Sifat Karet Buatan (Sintesis)
- Memiliki daya elastisitas atau daya lenting sempurna.
- Memiliki plastisitas baik, sehingga mudah diolah.
- Mempunyai daya aus tinggi
- Tidak mudah panas (low heat build up)
- Memiliki daya tahan tinggi terhadap keretakan (groove cracking resistance)
b.
Pengolahan
Karet Sintesis
o
Polimerization
Polymerisasi ialah merupakan proses awal dari pembuatan karet sintetik, pada tahap ini ada tiga metode yang digunakan yaitu emulsion, microemulsion, and suspension polymerization. Proses ini dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar sekelas Du Pont, Dow, GE, Ausimont, Daikin and Dyneon.
Polymerisasi ialah merupakan proses awal dari pembuatan karet sintetik, pada tahap ini ada tiga metode yang digunakan yaitu emulsion, microemulsion, and suspension polymerization. Proses ini dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar sekelas Du Pont, Dow, GE, Ausimont, Daikin and Dyneon.
o
Isolation
Pada tahap ini, backbone polymers diisolasi, dikeringkan, dan dibersihkan. Setelah tahap ini, maka polimer tersebut sudah siap untuk diolah oleh compounder.
Pada tahap ini, backbone polymers diisolasi, dikeringkan, dan dibersihkan. Setelah tahap ini, maka polimer tersebut sudah siap untuk diolah oleh compounder.
o
Compounding(mixing)
Tahap ini merupakan tahap yang paling penting dalam menentukan sifat2 tambahan dari suatu polimer/karet. Karena pada tahap inilah compounder meracik resepnya untuk menghasilkan bahan baku yang sesuai keinginannya/pesanan. Pengalaman dan pengetahuan compounder pada tahap ini sangat krusial untuk menghasilkan material yang berkualitas.
Tahap ini merupakan tahap yang paling penting dalam menentukan sifat2 tambahan dari suatu polimer/karet. Karena pada tahap inilah compounder meracik resepnya untuk menghasilkan bahan baku yang sesuai keinginannya/pesanan. Pengalaman dan pengetahuan compounder pada tahap ini sangat krusial untuk menghasilkan material yang berkualitas.
o
Extrusion/Forming/Premolding
Setelah selesai di mixing, maka material yang masih berbentuk lembaran dibentuk lagi menyerupai produk akhir supaya dapat dengan mudah diproses pada molding nantinya. misalnya untuk O-Ring, material tersebut dibentuk menyerupai kabel panjang.
Setelah selesai di mixing, maka material yang masih berbentuk lembaran dibentuk lagi menyerupai produk akhir supaya dapat dengan mudah diproses pada molding nantinya. misalnya untuk O-Ring, material tersebut dibentuk menyerupai kabel panjang.
o
Molding
Proses inilah yang menentukan akan berbentuk seperti apakah produk akhir. dengan kombinasi panas dan tekanan yang sesuai, maka akan didapat produk akhir yang sempurna.
Proses inilah yang menentukan akan berbentuk seperti apakah produk akhir. dengan kombinasi panas dan tekanan yang sesuai, maka akan didapat produk akhir yang sempurna.
o
Flash Removal
Setelah
dari proses molding, biasanya pada produk masih terdapat sisa-sisa material
yang menempel, pada tahap ini sisa-sisa tersebut dipisahkan sehingga didapat
produk akhir yang sesusai dengan cetakan.
o
Post Curing
Terkadang
pada tahap molding tidak semua proses kimia dapat terjadi dengan sempurna,
sehingga untuk menghabiskan sisa-sisanya dilakukan proses curing.
o
Finishing & Inspection
Setelah
selesai diproses, maka produk akhir hendaknya dibersihkan dan dilakukan
pengetesan apakah sudah sesuai dengan harapan atau tidak.
o Cleaning
Semua
proses telah selesai dan produk akhir yang didapat telah sempurna, maka produk
tersebut dicuci bersih dari kotoran-kotoran yang mungkin menempel pada proses
produksi sebelumnya.
o
Packaging
Setelah
produk akhir sudah bersih, dan siap untuk dikirim/disimpan. sebaiknya dimasukan
kemasan agar tidak terkontaminasi dari lingkungan luar.
K. Perbedaan Karet Alam dan Karet
Sintesis
Walaupun
karet alam sekarang ini jumlah prroduksi dan konsumsinya jauh dibawah karet sintetis
atau karet buatan pabrik, tetapi sesungguhnya karet alam belum dapat digantikan
oleh karet sintetis. Bagaimanapun, keunggulan yang dimiliki karet alam sulit
ditandingi oleh karet sintetis. Ada pun kelebihan-kelebihan yang dimiliki karet
alam dibanding karet sintetis adalah sebagai berikut:
-
Memiliki daya elastis atau daya lenting yang sempurna,
-
Memiliki plastisitas yang baik sehingga pengolahannya mudah.
-
Mempunyai daya aus yang tinggi,
-
Tidak mudah panas (low heat build up),dan
-
Memiliki daya tahan yang tinggi terhadap keretakkan (groove cracking
resistance)
Walaupun
demikian,karet sintetis memiliki kelebihan seperti tahan terhadap berbagai zat
kimia dan harganya yang cendrung bisa dipertahankan supaya tetap stabil. Bila
ada pihak yang menginginkan karet sintetis dalam jumlah tertentu, maka biasanya
pengiriman atau suplai barang tersebut jarang mengalami kesulitan. Hal seperti
ini sulit diharapkan dari karet alam. Harga dan pasokan karet alam selalu
mengalami perubahan, bahkan kadang-kadang bergejolak. Harga bisa turun drastis
sehingga merusak pasaran dan merisaukan para produsennya. Kadang-kadang karena
suatu sebab seperti keluarnya peraturan pemerintah di negara produsen yang
menginginkan suatu kondisi tertentu terhadap industri karet dalam negrinya,maka
akan mempengaruhi pasaran internasional. Suatu kebijaksanaan politik entah itu
dari pihak penguasa maupun pemerintah memiliki pengaruh yang besar terhadap
usaha perkarettan alam secara luas.
Walaupun memiliki beberapa kelemahan dipandang
dari sudut kimia maupun bisnisnya, akan tetapi menurut beberapa ahli, karet
alam akan tetap mempunyai pngsa pasar yang baik. Beberapa industri tertentu
tetap memiliki ketergantungan yang besar terhadap pasokan karet alam, misalnya
industri ban yang merupakan pemakai terbesar karet alam.
L. Pemanfaatan Karet Sintetik
Umumnya karet sintetik
diklasifikasikan kedalam 2(dua) kelompok utama,yaitu :
a. Kegunaan
Umum
Karet
jenis ini sebanyak 60 persen untuk keperluan pembuatan ban pneumatik. Contoh:
karet SBR,poliisoprena,polibutadiena,EPDM
b. Kegunaan
Khusus
Karet
jenis ini untuk keperluan pembuatan produk-produk karet yang tahan terhadap
aksi bahan kimia. Contoh : karet-karet IIR, polikloroprena, NBR
M.
Karet Untuk Kegunaan Umum
1.
Karet Stirena Butadiena
Karet Stirena Butadiena adalah karet
sintetik yang paling populer, merupakan kopolimer acak dari butadiena dan
stirena (25% stirena dan 75% butadiena) yang diproduksi dengan cara
polimerisasi emulsi Dibanding karet alam, karet Stirena Butadiena memiliki
beberapa kelebihan seperti : tidak memerlukan proses mastikasi, lebih toleran
terhadap extender oil tanpa menyebabkan terjadinya penurunan sifat
(deteoriozation in properties), dan ketahanan terhadap penuaan
dan abrasi
seperti karet alam, karet Stirena Butadiena juga tidak tahan terhadap minyak
api, karena gugus sisi (stirena) yang besar, maka karet Stirena Butadiena
merupakan polimer amorfus yang tidak menguat sendiri (self reinforced rubber),
sehingga perlu penambahan pengisi penguat saat komponding. Seperti karet alam,
karet Stirena Butadiena juga divulkanisasi dengan mengguanakan sistem vulkanisasi sulfur
terakselerasi, oleh karena ikatan gandanya lebih sedikit dibandingkan karet
alam maka jumlah hidrogen alilik juga lebih sedikit, sehingga jumlah sulfur
yang dipakai tidak sebanyak yang digunakan untuk karet
alam, tetapi
bahan pencepat digunakan lebih banyak.
2.
Karet
Polibutadiena (Butadiene Rubber/BR)
Dibuat dengan cara polimerisasi emulsi dan larutan, Polimerisasi larutan
menghasilkan karet karet BR yang stereo regular, untuk keperluan pembuatan ban
yang lebih tahan terhadap abrasi jalan raya, lebih lentur dan resilien
dibanding karet alam. Polimerisasi emulsi menghasilkan polimer campuran yang
acak (Cis dan Trans poli butadiene). Kegunaan utama adalah sebagai bahan untuk
pembuat ban, karena dapat meningkatkan ketahanan abrasi. Digunakan secara
adonan (campuran ) dengan karet SBR maupun karet alam, kelebihan terutama dalam
mengurangi terjadinya pemanasan dalam (hysteresis) pada produk ban.
3
Karet Isobutilena-Isoprena (Isobutylene-Isoprena Rubber/IIR)
Karet Butil (IIR) terdiri dari
kopolimer isobutilena dan Isoprena merupakan karet yang tidak tahan terhadap
minyak dan api, tidak berkutub (nonpolar) tapi sangat tahan terhadap beberapa
pelarut polar seperti ester fosfat. Karet yang dapat mengkristal sehingga
mempunyai kekuatan gum (vulkanisasi tanpa pengisi penguat) yang tinggi.
Kegunaan utama untuk pipa gas, berbagai barang mekanik, tube dalam untuk ban
pneumatic, produk karet yang terkena sinar matahari, barang-barang untuk
kegunaan suhu tinggi seperti gasket,pipa dan selang radiator,penebalan
kabel,produk tahan bahan kimia atau barang-barang yang tahan terhadap bahan
kimia seperti pembuatan pipa untuk industri kimia.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Karet merupakan
bahan penting untuk isolator dalam teknik listrik yang terbuat dari getah
bermacam-macam pohon karet, salah satu diantaranya : Hevea Braziliensis yang
menghasilkan karet terbanyak dengan kualitas tinggi. Proses penyampuran karet
kasar dengan belerang dan bahan tambahan lainnya dibeut vulkanisasi.
Untuk mendapatkan vulkanisasi yang baik dengan cara pemanasan uap, karena
tekanan uap dpat mencegah terjadinya pori dalam masa yang divulkanisir, sedang
pemanasannya dapat berjalan teratur. Bahan perekat untuk kulit, karet dan
sebagainya dapat dibuat dari karet kasar dicampur dengan bensin atau bensol.
Karet kasar juga merupakan bahan untuk pembuatan pita isolator (dibuat dari
bahan katun, dicelupkan dalam larutan karet kasar untuk memberi gaya perekat
pada pita tersebut. Pita isolator ini dapat dipakai untuk menyekat tempat
sambungan kawat, ujung kabel nadi dan batu mahkota, serta dalam industri mobil.
Dalam teknik listrik karet sebagai isolator hantaran listrik, sepatu kabel,
perkakas pemasangan instakasi kistrik, dll.
DAFTAR
PUSTAKA
·
Syafriudin, Pengetahuan Bahan-bahan listrik, (Yogyakarta :AKPRIND PRESS, 2013)
·
Setiabudy,Rudy , Material Teknik Listrik ,(Jakarta :UI Press ,2007 )
·
Sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar