Makalah tentang
akhlak hamidan IST akprind
A.
Latar belakang
Kata akhlak berasal
dari dari bahasa arab khuluq yang jamaknya akhlak yang artinya perangi
atau budi pekerti. Ukuran akhlak itu baik atau buruk adalah motif yang
mendasari perbuatan dan tindakan dan adanya petunjuk yang mengatakan itu baik
berdasarkan firman Allah dan sabda Rasul saw. Jadi pemahaman akhlak adalah
seseorang yang mengerti benar tentang segala sesuatu tindakannya hanya
mengharap ridho Allah swt.
Akhlak merupakan
masalah yang sangat penting dalam islam. Seseorang dapat dikatakan berakhlak ketika
dia menerapakan nilai-nilai islam dalam aktifitas hidupnya. Jika aktifitas itu
terus dilakukan berulang-ulang dengan kesadaran hati maka akan menghasilkan
kebiasaan hidup yang baik. Akhlak merupakan perpaduan antara hati, pikiran,
perasaan, kebiasaan yang membentuk satu kesatuan tindakan dalam kehidupan.
Sehingga bisa membedakan mana yang baik dan tidak baik, mana yang jelek dan
mana yang cantik dan hal ini timbul dari futrahnya sebagai manusia.
Hati nurani manusia
selalu mendambakan dan merindukan kebenaran, ingin mengikuti ajaran-ajaran
Allah Swt. Namun fitrah manusia tidak selalu terjamin dapat berfungsi dengan
baik karena pengaruh dari luar misalnya pengaruh pendidikan, lingkungan,
pakaian dan juga pergaulan. Sehingga menyebabkan manusia sulit membedakan
antara akhlak terpuji dan akhlak tercela. Maka kami dalam makalah ini membahas
tentang “materia akhlak (akhlak baik dan akhlak buruk”
B. Rumusan
masalah
Berdasarkan latar
belakang yang telah kami paparkan maka rumusan masalah yang kami ambil :
1. Apa pengertian dari akhlak terpuji dan
akhlak tercela?
2.Apa saja yang termasuk akhlak terpuji dan
akhlak tercela?
3.Bagaimana penerapannya dalam kehidupan?
C. Tujuan
penulisan
Tujuan penulisan dari
makalah ini antara lain :
1.Menjelaskan akhlak terpuji dan macam-macam
akhlak terpuji dan akhlak tercela dengan macam-macam akhlak tercela.
2. Mengetahui penerapan akhlak terpuji
dan akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari.
D. Manfaat
penulisan
Saya berharap makalah
ini mampu menambah wawasan pembaca mengenai akhlak terpuji yang di ridhoi Allah
SWT dan Penerapannya dalam kehidupan sehari-hari yang mampu menambah iman para
pembaca.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Akhlak
Akhlak berasal dari
bahasa Arab “akhlaqun” yang merupakan bentukjamak dari “khuluqun”,
atau akhlak juga berarti budi pekerti, tabia’at atau tingkah
laku, watak,dan perangai.
Sedangkan menurut
istilah akhlak didefenisikan oleh beberapa ahli sebagai berikut:
a. Menurut Al-Ghazali, segala sifat yang
tertanam dalam hati yang menimbulkan kegiatan-kegiatan dengan ringan dan mudah
tanpa memerlukan pemikiran tanpa pertimbangan.
b. Menurut Abdul Karim Zaidan, nilai
dan sifat yang tertanam dalam jiwa sehingga seseorang dapat menilai perbuatan
baik atau buruk, kemudian memilih melakukan atau meninggalkan perbuatan
tersebut.
c. Menurut Ahmad Amin ialah membiasakan
kehendak. Ini berari bahwa kehendak itu apabila dibiasakan terhadap maka
kebiasan itu akan dapat membentuk akhlak.
d. Menurut Ibnu Maskawaih, akhlah adalah
perilaku jiwa seseorang yang mendorong untuk melakukan kegiatan-kegiatan tanpa
melalui pertimbangan (sebelumnya).
Jadi, ilmu akhlak
ialah ilmu yang berusaha untuk mengenal tingkah laku manusia kemudian memberi
hukum/nilai kepada perbuatab itu bahwa ia baik atau buruk sesuai dengan
norma-norma akhlak dan tata susila.
B. Pengertian Akhlak Terpuji
& Akhlak Tercela
Akhlak terpuji disebut
juga akhlakul kharimah atau akhlakul mahmudah, artinya segala macam perilaku
atau perbuatan baik yang tampak dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan
akhlak buruk yang disebut juga akhlak mazmumah, yaitu segala macam
perilaku atau perbuatan buruk/tercela yang tampak dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut ajaran Islam penentuan baik dan buruk
harus didasarkan pada petunjuk al-qur’an da al-hadis. Jika kita perhatikan
al-qur’an atau hadis dapat dijumpai berbagai istilah yang mengacu kepada baik
dan ada pula yang mengacu kepada yang buruk. Diantara istilah yang mengacu
kepada yang baik misalnyaal-hasanah, thayyibah, khairah, karimah, mahmudah,
azizah dan al-birr.
Keutamaan akhlak
terpuji disebutkan dalam hadist salah satunya adalah hadis yang diriwayatkan
oleh Abu dzar dari Nabi Muhammad saw, yang artinya:
“ wahai abu dzar! ‘maukah aku tunjukan dua hal
yang sangat ringan dipunggung, tetapi sagat berat ditimbangan(pada hari kiamat
kelak?)’, Abu dzar menjawab, ‘hendaklah kamu melakukan akhlak terpuji dan
banyak diam. Demi Allah yang tanganku berada digenggamannya, tidak ada makhluk
lain yang dapat bersolek dengan dua hal tersebut” (H.R Al-baihaqi)
Akhlak buruk atau
akhlakul mazmumah adalah akhlak yang tercela dan akhlak baik pun bisa menjadi
akhlak tercela jika dalam melakukan perbuatan baik itu niat dan cara
melakukannya dengan cara tidak baik.
Segala bentuk akhlak
yang bertentangan dengan akhlak terpuji disebit dengan akhlak tercela. Akhlak
terceka merupakan tingkah laku yang tercela yang dapat merusak keimanan
seseorang dan adapat menjatuhkan amartabatnya sebagai manusia.
Sebagai maunsia yang
beriman kita harus menjauhi akhlat tercela, sebagaimana yang nyatakan dalam
beberapa keterangan.
1.Rasulullah saw.bersabda:
“ seandainya akhlak
buruk itu seseorang yang berjalan ditengah-tengah manusia, ia pasti seseorang
yang buruk. Sesungguhnya Allah tidak menjadikan perangiku jahat.”
2.Rasulullah saw bersabda:
“ sesungguhnya akhlak
tercela merusak kebaikan sebagaimana cuka merusak madu”.
C. Macam- Macam Akhlak Terpuji
1) HUSNUZAN
Pengertian
Husnuzan secara bahasa
berarti “berbaik sangka” lawan katanya adalah su’uzan yang berarti
berburuk sangka atau apriori dan sebagainya. Husnuzan adalah cara pandang
seseorang yang membuatnya melihat segala sesuatu secara positif, seorang yang memiliki
sikap husnuzan akan mepertimbangkan segala sesuatu dengan pikiran jernih,
pikiran dan hatinya bersih dari prasangka yang belum tentu kebenaranya.
Sebaliknya orang yang pemikirannya senantiasa dikuasai oleh sikap su’uzan
selalu akan memandang segala sesuatu jelek, seolah-olah tidak ada sedikit pun
kebaikan dalam pandanganya, pikirannya telah dikungkung oleh sikap yang
menganggap orang lain lebih rendah dari pada dirinya. Sikap buruk sangka
identik dengan rasa curiga, cemas, amarah dan benci padahal kecurigaan, kecemasan,
kemarahan dan kebencian itu hanyalah perasaan semata yang tidak jelas
penyebabnya, terkadang apa yang ditakutkan bakal terjadi pada dirinya atau
orang lain sama sekali tak terbukti.
Kembali kepada husnuzan, secara garis besar
dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu :
1.Husnuzan kepada Allah, ini dapat
ditunjukan dengan sifat tawakal, sabar dan ikhlas dalam menjalani hidup.
2.Husnuzan kepada diri
sendiri, ditunjukan dengan sikap percaya diri dan optimis serta inisiatif
3.Husnuzan kepada
sesama manusia, ditunjukan dengan cara senang, berpikir positif dan sikap
hormat kepada orang lain tanpa ada rasa curiga.
Macam-macam husnuzan
1.Husnuzan Kepada Allah
Salah satu sifat terpuji yang harus tertanam
pada diri adalah adalah sifat husnuzan kepada Allah, sikap ini ditunjukan
dengan selalu berbaik sangka atas segala kehendak allah terhadap hamba-Nya.
Karena banyak hal yang terjadi pada kita seperti musibah membuat kita secara
tidak langsung menganggap Allah telah tidak adil, padahal sebagai seorang
mukmin sejati semestinya kita harus senantiasa menganggap apa yang ditakdirkan
Allah kepada kita adalah yang terbaik.Seseorang boleh saja sedih, cemas dan
gundah bila terkena musibah, akan tetapi jangan sampai berlarut-larut sehingga
membuat dirinya menyalahkan Allah sebagai Penguasa Takdir. Sikap terbaik yang
dapat dilakukan adalah dengan cara segera menata hati dan perasaan kemudian
menegguhkan sikap bahwa setiap yang ditakdirkan Allah kepada hamba-Nya
mengandung hikmah. Inilah yang disebut dengan sikap husnuzan kepada Allah.
Sebagai seseorang mukmin yang meyakini bahwa Allah Maha Tahu atas apa yang terjadi terhadap hamba-Nya, karena itu kita semestinya berpikir optimis, yakin bahwa rahmat dan karunia yang diberikan Allah kepada manusia tidak akan pernah putus. Sebagaimana Firman Allah Swt :
Sebagai seseorang mukmin yang meyakini bahwa Allah Maha Tahu atas apa yang terjadi terhadap hamba-Nya, karena itu kita semestinya berpikir optimis, yakin bahwa rahmat dan karunia yang diberikan Allah kepada manusia tidak akan pernah putus. Sebagaimana Firman Allah Swt :
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ
كُلَّ شَيْءٍ
“Dan rahnat ku
meliputi segala sesuatu” (Q.S.Al-A’raf : 156)
Sehubungan dengan ayat ini, kita perlu
ber-husnuzan kepada Allah dalam segala hal dan keadaan, Allah Maha Tahu apa
yang terbaik buat hamba-Nya, ketika kita senang dan suka karena mendapatkan
rezeki dan kenikmatan dari Allah, maka sebaliknya saat kita dalam keadaan
nestapa dan duka karena mendapatkan ujian dan cobaan hendaknya tetap
ber-husnuzan kepada Allah Swt., sebab semua yang diberikan oleh Allah, baik
berupa kenikmatan maupun cobaan tentu mengandung banyak hikmah dan kebaikan.
Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam sebuah Hadits Qudsi yang artinya :
“Selalu menuruti
sangkaan hamba ku terhadap diriku jika ia berprasangka baik maka akan
mendapatkan kebaikan dan jika ia berprasangka buruk maka akan mendapatkan
leburukan” (H.R.at-Tabrani dan Ibnu Hiban).
2.Husnuzan terhadap Diri Sendiri
Perilaku husnuzan
terhadap diri sendiri artinya adalah berperasangka baik terhadap kemampuan yang
dimilki oleh diri sendiri. Dengan kata lain, senantiasa percaya diri dan tidak
merasa rendah diri di hadapan orang lain. Orang yang memiliki sikap husnuzan
terhadap diri sendiri akan senantiasa memiliki semangat yang tinggi untuk
meraih sukses dalam setiap langkahnya. Sebab ia telah mengenali dengan baik
kemempuan yang dimilikinya, sekaligus menerima kelemahan yang ada pada dirinya,
sehingga ia dapat menetahui kapan ia harus maju dan tampil di depan dan kapan
harus menahan diri karena tidak punya kemampuan di bidang itu.
3.Husnuzan terhadap Sesama Manusia
Husnuzan terhadap
sesama manusia artinya adalah berprasangka baik terhadap sesama dan tidak
meragukan kemampuan atau tidak bersikap apriori. Semua orang dipandang baik
sebelum terbukti kesalahan atau kekeliruannya, sehingga tidak menimbulkan
kekacauan dalam pergaulan. Orang yang ber-husnuzan terhadap sesama manusia
dalam hidupnya akan memiliki banyak teman, disukai kawan dan disegani
lawan.Husnuzan terhadap sesama manusia juga merupakan kunci sukses dalam
pergaulan, baik pergaulan di Sekolah, keluarga, maupun di lingkungan masyarkat.
Sebab tidak ada pergaulan yang rukun dan harmonis tanpa adanya prasangka baik
antara satu individu dengan individu lainnya.
Contoh Perilaku Husnuzan
1.Husnuzan kepada Allah dan Sabar Menghadapi
Cobaan-Nya
Berprasangka baik
kepada Allah Swt. artinya menganggap qada dan qadar yang diberikan Allah adalah
hal yang terbaik untuk hamba-Nya, karena Allah Swt. bertindak terhadap
hamba-Nya seperti yang disangkakan kepada-Nya, kalau seorang hamba berprasangka
buruk kepada Allah Swt., maka buruklah prasangka Allah kepada orang tersebut,
jika berprasangka baik kepada-Nya, maka baik pulalah prasangka Allah kepada
hamba-Nya.
Cara menunjukkan sikap husnuzan kepada Allah swt adalah :
Cara menunjukkan sikap husnuzan kepada Allah swt adalah :
a. Senantiasa taat kepada Allah.
b. Bersyukur apabila mendapatkan kenikmatan.
c. Bersabar dan ikhlas apabila mendapatkan
ujian serta cobaan.
d.Yakin bahwa terdapat hikmah di balik segala
penderitaan dan kegagalan.
2.Husnuzan kepada Diri Sendiri.
Husnuzan kepada diri
sendiri adalah sikap baik sangka kepada diri sendiri dan meyakini akan
kemampuan dan potensi yang dimiliki. Husnuzan kepada diri sendiri dapat
ditunjukkan dengan sikap gigih dan optimis. Gigih berarti sikap teguh
pendirian, tabah dan ulet atau berkemauan kuat dalam usaha mencapai sesuatu
cita-cita. Sedangkan optimis adalah sikap yang selalu memiliki harapan baik dan
positif dalam segala hal.
Manfaat sikap gigih
adalah :
1. Membentuk pribadi yang tangguh
2. Menjadikan seseorang teguh pendirian dan
tidak mudah terpengaruh
3. Menjadikan seseorang kreatif.
4. Menyebabkan tidak gampang putus asa dan
menyerah terhadap keadaan
5. Berinisiatif, artinya pelopor atau langkah
pertama atau senantiasa berbuat sesuatu yang sifatnya produktif. Berinisiatif
menuntut sikap bekerja keras dan etos kerja yang tinggi. Adapun ciri-ciri orang
penuh inisiatif adalah kreatif dan tidak kenal putus asa.
3.Husnuzan kepada Sesama Manusia
Husnuzan kepada sesama
manusia adalah sikap yang selalu berpikir dan berprasangka baik kepada sesama
manusia. Sikap ini ditunjukkan dengan rasa senang, berpikir positif dan sikap
saling menghormati antar sesama hamba Allah tanpa ada rasa curiga, dengki dan
perasaan tidak senang tanpa alasan yang jelas.
Nilai dan manfaat dari
sikap Husnuzan kepada manusia mengandung nilai dan manfaat sebagai berikut :
a. Hubungan persahabatan dan persaudaraan
menjadi lebih baik.
b. Terhindar dari penyesalan dalam hubungan dengan
sesama.
c. Selalu senang dan bahagia atas kebahagiaan
orang lain.
Hikmah Husnuzan
Di antara hikmah husnuzan adalah sebagai
berikut:
1. Menumbuhkan perasaan cinta kepada Allah,
artinya melaksanakan perintah Allah dan Rasul serta menjauhi segala
larangannya, melaksanakan jihad fisabillilah dan mencintai sesame manusia
karena Allah.
2. Menumbuhkan perasaan syukur kepada Allah
atas segala nikmat-Nya.Menumbuhkan sikap sabar dan tawakal.
3. Menumbuhkan keinginan untuk berusaha beroleh
rahmat dan nikmat Allah.
4. Mendorong manusia mencapai kemajuan.
5. Menimbulkan ketentraman.
6. Menghilangkan kesulitan dan kepahitan.
7. Membuahkan kreasi yang produktif dan
daya cita yang berguna.
2) TOBAT
Hukum bertaubat
Bertaubat termasuk
perkara yang diwajibkan dalam agama. Dengan bertaubat manusia akan berhenti
dari berbuat dosa.Allah adalah Dzat Yang Maha Pengampun. Ia senantiasa memberi
kesempatan kepada hambaNya yangmau memohon ampun atas segala dosa yang telah
dia perbuat.Seperti dalam firman Allah dalam Q.S. An-Nuur Ayat 31 yang artinya:
وَتُوبُوا إِلَى
اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“ bertaubatlah kamu semua kepada Allah hai
orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung”.
Penggolongan taubat
Secara umum para ulama
membagi tobat menjadi tiga bagian, yaitu sebagai berikut:
1. Tobat
Awam (tobat manusia umum),yaitu tobat manusia secara umum. Yang dimaksud ialah
bahwa hati seseorang tunduk dikarenakan dirinya telah melakukan perbuatan salah
dan dosa.
2.Tobat Khawash (tobat orang-orang khusus),
tobat tingkat ini sebagai pertanda meningkastnya makrifah manusia kepada Allah.
Mereka merasa malu dikarenakan telah melakukan perbuatan-perbuatan yang mekruh.
Hatinya tunduk dan khusyuk dihadapan Allah, tobat semacam ini sebagaimana yang
dilakukan nabi Adam yang menangis dan menyesal karena telah melanggar larangan
Allah yaitu memakan buah Khuldi.
3.Tobat Akhash Al-khawash, tingkatan tobat
yang paling tinggi adalah tobat ini. Tobat rasulullah manakala dia berkata,
“sesungguhnya ini adalah kebodohan pada hatiku, dan sesungguhnya aku akan
memohon ampun kepada Allah sebanyak tujuh puluh kali dalam sehari”. Dengan kata
lain, untuk membersihkan hatinya dari menaruh perhatian kepada selain Allah,
Rasulullah bristigfar kepada Allah.
· Tata cara untuk
bertobat
Untuk melakukan tobat
yang sempurna, seseorang yang bersalah harus memenuhi lima tahapan :
1. Menyadari kesalahan
2. Menyesali kesalahan
3. Memohon ampun kepada Allah(istigfar
)dengan keyakinan atau husnuzhzhan bahwa Allah swt. Akan mengampuninya
4. Berjanji tidak akan mengulanginya
5. Menutupi kesalahan masa
lalu dengan amal shaleh, untuk membuktikan bahwa dia benar-benar
bertobat.firman Allah swt. :
Artinya :
“Dan
Sesungguhnya aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal
saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.”(Q.S.Taha/20:82)
Jenis dosa dan cara tobatnya
Secara umum perbuatan
dosa dikelompokkan menjadi empat bagian, yaitu :
a. Dosa yang berkaitan dengan hak Allah.
Seperti berkata dusta, meninggalkan sholat lima waktu, berbuat syirik,meminum
khamar, berjudi, main perempuan, menyaksikan film-film yang mengundang syahwat,
semua diatas adalah termasuk dosa besar. Caranya seseorang harus berhenti dari
perbuatan dosa tersebut dan menyesali perbuatan yang telah dilakukan,
memperbaiki diri dan tidak melakukan dosa yang sama untuk kedua kalinya.
b. Dosa yang berkaitan dengan hak Allah
namun hak Allah yang wajib ditutupi atau diqada, seperti orang yang tidak
mengerjakan puasa caranya apabila dia meninggalkan satu hari saja puasa maka
dia harus berpusa selama enam puluh hari sebagai kafarah dari perbuatannya atau
dia memberi makan enam orang miskin.
c. Dosa yang terkait dengan hak manusia
yang tidak membutuhkan kepada pengganti, seperti perbuatan gibah mengumpat,
mencari-cari kesalahan orang lain atau menggunjing. Caranya dengan tidak
mengumpat serta menyesali apa yang telah mereka lakukan dan memperbaiki
dirinya, maka pasti Allah mengampuninya.
d. Dosa yang
berkaitan dengan hak manusia, yang wajib dikembalikan kepada mereka. Seperti
memakan harta orang lain, walaupun hanya sekedar satu karat, walaupun hanya
sebutir gandum. Caranya mengembalikan harta orang lain yang telah dighashabnya,
kemudian menyesali apa yang telah terjadi dan tidak memakan harta haram lagi
dan dia juga tidak boleh seperti seekor lintah yang menghisap darah manusia.
D. Macam-Macam
Akhlak Tercela
1) RIYA
Riya berasal dari bahasa arab ri’aun atau
riya’ yang artinya memperlihatkan. Kata ini diulang berpuluh-puluh
kali dalam al-qur’an. Firman allah :
Artinya :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti
(perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya
kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka
perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian
batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah Dia bersih (tidak bertanah).
mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah
tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.(Q.S. Al-Baqarah/2: 264)
Menurut bahasa riya’ berarti pamer,
memperlihatkan, memamerkan,
atau ingin memperlihatkan yang bukan
sebenarnya. Sedangkan
menurut istilah riya’ dapat didefinisikan
“memperlihatkan suatu
ibadah dan amal shalih kepada orang lain, bukan karena Allah
tetapi karena
sesuatu selain Allah, dengan harapan agar mendapat pujian
atau penghargaan dari orang lain.” Sementara
memperdengarkan
ucapan tentang
ibadah dan amal salehnya kepada orang lain disebut sum’ah (ingin didengar).
Adapun menurut istilah riya adalah melakukan
sesuatu karena ingin dilihat
atau ingin dipuji orang lain.
Riya’ merupakan perbuatan tercela dan
merupakan syirik kecil yang hukumnya
haram. Riya’ sebagai salah satu sifat orang munafik
yang seharusnya dijauhi oleh orang mukmin. Simak QS. An
Nisa’ : 142 :
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ
يُخَادِعُونَ اللّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُواْ إِلَى الصَّلاَةِ
قَامُواْ كُسَالَى يُرَآؤُونَ النَّاسَ وَلاَ يَذْكُرُونَ اللّهَ إِلاَّ قَلِيلاً
Artinya : “Sesungguhnya orang-rang munafik
itu menipu Allah, dan Allahakan membalas tipuan mereka. Dan jika mereka berdiri
untuk shalat mereka berdiri dengan malas, mereka bermaksud riya’ (dengan
shalat itu) dihadapan
manusia, dan tidaklah mereka dzkiri kepada Allah
kecuali sedikit
sekali.”
Dalam sebuah hadis, Rasulullah bercerita, ”Di
hari kiamat nanti ada orang yang mati syahid
diperintahkan oleh Allah untuk masuk
ke neraka. Lalu orang itu melakukan protes,
‘Wahai Tuhanku, aku ini
telah mati
syahid dalam perjuangan membela agama-Mu, mengapa
aku dimasukkan ke neraka?’ Allah menjawab, ‘Kamu
berdusta dalam berjuang.
Kamu hanya ingin mendapatkan pujian dari orang lain,
agar dirimu dikatakan
sebagai pemberani. Dan, apabila pujian itu telah dikatakan
oleh mereka, maka itulah sebagai balasan dari perjuanganmu’.”
Orang yang berjuang atau beribadah demi
sesuatu yang bukan
ikhlas karena Allah
SWT, dalam agama disebut riya. Sepintas, sifat
riya merupakan
perkara yang sepele, namun akibatnya sangat fatal. Sifat
riya dapat
memberangus seluruh amal kebaikan, bagaikan air hujan
yang menimpa
debu di atas bebatuan. Allah SWT berfirman :
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا
عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُوراً
Artinya : ”Dan Kami hadapi segala amal yang
mereka kerjakan, lalu Kamijadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan”.
(QS. Al-Furqan : 23)
Abu Hurairah r.a. juga pernah mendengar
Rasulullah bersabda :
”Banyak orang yang berpuasa, namun tidak
memperoleh sesuatu dari puasanya itu
kecuali lapar dan dahaga, dan banyak pula orang
yang melakukan
shalat malam yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali
tidak tidur
semalaman.”
Begitu dahsyatnya penyakit riya ini, hingga
pernah seseorang bertanya
kepada Rasulullah, ”Apakah keselamatan itu?” Jawab
Rasulullah, ”Apabila
kamu tidak menipu Allah.” Orang tersebut bertanya
lagi, ”Bagaimana menipu Allah itu?” Rasulullah
menjawab, ”Apabila
kamu melakukan suatu amal yang
telah diperintahkan oleh Allah dan
Rasul-Nya kepadamu, maka kamu
menghendaki amal itu untuk selain Allah.”
Meskipun riya sangat berbahaya, tidak sedikit di
antara kita yang teperdaya oleh penyakit hati ini. Kini tidak
mudah untuk
menemukan orang
yang benar-benar ikhlas beribadah kepada Allah tanpa adanya pamrih
dari manusia atau tujuan lainnya, baik dalam masalah
ibadah, muamalah,
ataupun perjuangan. Meskipun kadarnya berbeda-beda
antara satu dan lainnya, tujuannya
tetap sama: ingin menunjukkan amaliyahnya, ibadah, dan segala
aktivitasnya di hadapan manusia.
Secara tegas Rasulullah pernah bersabda,
”Takutlah kamu kepada syirik kecil.” Para shahabat bertanya,
”Wahai Rasulullah, apa
yang dimaksud dengan
syirik kecil?” Rasulullah berkata, ”Yaitu sifat riya. Kelak
di hari pembalasan, Allah mengatakan kepada mereka yang memiliki
sifat riya, ‘pergilah kalian kepada mereka, di mana kalian
pernah memperlihatkan
amal kalian kepada mereka semasa di dunia.
Lihatlah apakah
kalian memperoleh imbalan pahala dari mereka’
Perbedaan amal perbuatan yang diridhai allah
dengan amal perbuatan riya’
Antara amal perbuatan yang diredhai oleh Allah
dengan amal perbuatan
riya’ dapat dibedakan sebagai berikut :
Amal perbuatan yang diridhai Allah :
a. Niat karena Allah
b. Ikhlas
c. Sesuai dengan kemampuan
d. Tidak pilih kasih
e. Rahmat bagi seluruh alam
Amal perbuatan riya’
a. Niat bukan karena Allah
b. Tidak ikhlas
c. Mengada-ada
d. Pilih kasih
e. Ingin dipuji
f. Mengharap imbalan
Macam-macam riya’
Dilihat dari bentuknya, ria dapat digolongkan
2 macam, yaitu :
a. Ria dalam niat
Ria yang berkaitan dengan hati, maksud ria
dalam niat, yaitu sejak awal perbuatan bahkan yang dilakukannya tidak
didasari ikhlas sebelumnya sudah didasari ria. Yang mengetahui hanya
Allah SWT dan dirinya saja. Apabila seseorang ingin melakukan
amal perbuatan baik atau tidak tergantung pada niat. Rasulullah Saw.
bersabda :
ﺳَﻤِﻌْﺖُﻋُﻤَﺮَﭐﺑْﻦَﭐﻟْﺨَﻄﱠﺎﺏﻗَﺎﻝَﻋَﻠَﻰﭐﻟْﻤِﻨْﺒَﺮﺳَﻤِﻌْﺖُﺭَﺳُﻮْﻝَﺹﻉﻳَﻘُﻮْﻝُِِﺇِﻧﱠﻤَﺎﺍْﻻَﻋْﻤَﺎﻝُﺑِﺎﻟﻨﱢﻴﱠﺎﺕِﻭَﺇِﻧﱠﻤَﺎﻟِﻜُﻞﱢﺍﻣْﺮِﺉٍﻣَﺎﻧَﻮَﻯ
( متفق عليه)
Artinya : “aku mendengar Umar bin al Khaththab
berkata di atas mimbar, ‘aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda
:“Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya
bagi setiap orang memperoleh sesuai apa yang ia niatkan”. (H.R.Bukhari Muslim)
b. Ria dalam perbuatan
Yaitu memamerkan atau menunjukkan perbuatan di
depan orang banyak, agar perbuatan tersebut dipuji, diperhatikan, dan
disanjung orang lain. Di antara contoh riya dalam perbuatan, bila
seorang pelajar terlihat belajar dengan sungguh-sungguh hanya karena ingin
mendapat nilai yang bagus. Dan dia melakukan hal itu kepada orang tuanya
hanya karena ingin mendapatkan apa yang dia minta dari orang tuanya
cepat-cepat terkabul.
Beberapa penjelasan Allah SWT dalam Al Qur’an
sehubungan dengan riya’ dalam perbuatan antara lain :
a). Melakukan ibadah shalat tidak untuk
mencapai keridlaan Allah SWT, tetapi mengaharapkan pujian, popularitas di
masyarakat. dan dalam Q.S. Al Ma’un : 4-6 :
فَوَيْلٌ
لِّلْمُصَلِّينَ. الَّذِينَ هُمْ عَن
صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ. الَّذِينَ هُمْ يُرَاؤُونَ
Artinya : “Maka celakalah bagi orang-orang
yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang
yang berbuat riya”.
b). Bersedekah didasari riya laksana riya’
batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan
lebat, lalu menjadilah ia bersih.
c). Allah melarang pergi berperang didasari
riya’ dan menghalangi (orang) lain menempuh jalan Allah (sabilillah).
Allah berfirman dalam Q.S. Al Anfaal : 47 :
وَلاَ تَكُونُواْ
كَالَّذِينَ خَرَجُواْ مِن دِيَارِهِم بَطَراً وَرِئَاء النَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَن
سَبِيلِ اللّهِ وَاللّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ
Artinya : Dan janganlah kamu seperti
orang-orang yang keluar dari kampung halamannya dengan rasa angkuh dan
ingin dipuji orang (ria) serta menghalang-halangi (orang) dari jalan
Allah. Allah meliputi segala yang mereka kerjakan.
Ciri orang yang berbuat riya’
Beberapa ciri orang yang mempunyai sifat riya’
dalam perbuatan :
a. Tidak akan berbuat baik jika tidak dilihat
orang lain atau tidak ada imbalan baginya
b. Melakukan amal saleh tanpa dasar, hanya
ikut-ikutan.
c. Tampak rajin penuh semangat jika amal
perbuatannya dilihat atau dipuji-puji orang.
d. Ucapannya selalu menunjukkan bahwa dia yang
paling hebat, paling tinggi dan paling mampu.
Bahaya-bahaya yang ditimbulkan dari sikap
riya’
a. Terhadap diri sendiri :
1). Selalu tidak ada puasnya, sekalipun
hidupnya sudah berkecukupan sehingga berpotensi untuk korupsi dan
mengambil hak orang lain
2). Selalu ingin dipuji dan dihormati
3). Ketidakpuasan, sakit hati dan penyesalan
ketika lain tidak dihargai.
4). Sombong dan membanggakan diri
5). Tidak dapat bersungguh-sungguh dalam
beribadah kepada Allah dan dalam berinteraksi
dengan sesama manusia.
6). Menyesal jika telah melakukan perbuatan
baik hanya karena tidak ada orang lain yang melihatnya atau tidak
ada imbalannya
7). Jiwanya akan terganggu karena
kegelisahan/keluh kesah yang tiada henti
8). Perbuatan riya’ termasuk syirik kecil
وَعَنْ مَحْمُودِ بْنِ
لَبِيدٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم
) إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ اَلشِّرْكُ
اَلْأَصْغَرُ اَلرِّيَاءُ ( أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ
بِسَنَدٍ حَسَنٍ
Artinya : Dari Mahmud Ibnu Labid r.a. bahwa
Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa
Sallam bersabda: "Sesungguhnya hal yang paling aku
takuti menimpamu ialah syirik kecil: yaitu riya."
(Riwayat Ahmad dengan sanad hasan).
9). Allah tidak akan menerima dan memberi
pahala atas perbuatan riya'
10). Di akhirat akan dicampakkan ke dalam api
neraka.
b. Terhadap orang lain
1). Berpotensi saling bermusuhan, karena ia
mengungkit apa yang yang diberikannya kepada orang lain.
2). Memamerkan amalnya kepada orang lain,
sehingga orang lain menjadi benci dan tidak senang terhadapnya
3). Sikap dan perilakunya yang ria akan
berpotensi menimbulkan pertikaian dan akhirnya menimbulkan pengrusakan
Tanda-tanda riya’
Tanda-tanda penyakit hati ini pernah
dinyatakan oleh Ali bin Abi Thalib. Kata beliau, ”Orang yang
riya itu memiliki tiga ciri, yaitu malas beramal ketika sendirian dan giat
beramal ketika berada di tengah-tengah orang ramai, menambah amaliyahnya ketika
dirinya dipuji, dan mengurangi amaliyahnya ketika dirinya dicela.”
Kebiasaan yang dapat menghindari perbuatan
riya
a. Memfokuskan niat ibadah (ikhlas) hanya
semata-mata karena Allah SWT
b. Membiasakan diri membaca basmallah sebelum
memulai pekerjaan
c. Membiasakan menjaga lisan saat bekerja
d. Membiasakan diri menolong atau membantu
pekerjaan orang lain tanpaharus disuruh dan meminta imbalan
e. Membiasakan bersedekah atau mengeluarkan
infaknya setiap mendapatrezeki atau kesenangan
f. Tidak mudah tergiur atau terpengaruh dengan
kemewahan orang lain
g. Tidak membuat kecemburuan kepada orang lain
h. Saling menasehati untuk kebaikan dan
kesabaran dalam beribadah
i. Tidak memamerkan sesuatu karena pada
dasarnya semua yang dimiliki adalah dari Allah dan akan
kembali kepada-Nya
j. Membiasakan diri untuk bersyukur kepada
Allah SWT
Allah SWT berfirman :
وَإِذْ تَأَذَّنَ
رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي
لَشَدِيدٌ
Artinya : “Dan (ingatlah juga), tatkala
Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu
bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat)kepadamu, dan jika kamu mengingkari
(nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (Q.Ibrahim : 7)
2) ANIAYA (DZALIM)
Menurut ajaran islam,
aniaya atau yang biasa disebut dzalim adalah berasal dari
(dzolama-yadzlimu-dzulman) yang artinya aniaya.
Pelakunya disebut dzalim dan perbuatannya disebut dzulmun.Ahli
mauidzah mendefinisikan dzalim yaitu meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Dzalim
adalah perbuatan dosa yang harus ditinggalkan. Karena tindakan aniaya akan
dapat merusak kehidupan pribadi, keluarga dan
masyarakat. Tindakan aniaya digolongkan sebagai
perbuatan yang menyesatkan dan menyengsarakan.
Perkataan aniaya berasal dari bahasa Sangsekerta yang
berarti perbuatan bengis, penyiksaan atau zalim, zalim artinya: tidak menempatkan
sesuatu dengan semestinya atau sesuai dengan ketentuan Allah Swt. Atau
bisa diartikan tindakan yang tidak manusiawi,
yang bertentangan dengan hak azasi manusia dan
Allah swt.
Berkaitan dengan istilah dzalin, Ar-Razi
memberikan sepuluh penafsiran sebagai berikut :
a. Dzalim adalah orang yang paling banyak
kesalahannya,
b. Dzalim adalah sesuatu yang
kulitnya lebih bagus daripada isinya,
c. Dzalim adalah orang
bertauhid dengan lidah, tetapi berbeda dengan sepak terjang hidupnya
d. Dzalim adalah orang yang berbuat dosa
besar
e. Dzalim adlah orang yang
membaca al-qur-an dengan tidak mau mempelajari isinya, apalagi
mengamalkannya
f. Dzalim adalah orang yang jahil
g. Dzalim adalah orang yang masy’amah
(berputu asa)
h. Dzalim adalah orang yang setelah
dihisab masuk ke neraka
i. Dzalim adalah orang yang tidak mau
berhenti berbuat maksiat
j. Dzalim adalah orang yang mengambil
al-qur’an, tetapi tidak mengamalkannya
Macam-macam sifat aniaya:
1. Aniaya kepada Allah swt, dg
tidak mau melaksanakan perintah Allah yang wajib, dan
meninggalkan larangan Allah yang haram.
2. Aniaya terhadap
sesama manusia seperti ghibah, (mengumpat), namimah (mengadu domba, fitnah,
mencuri, merampok, melakukan penyiksaan, dan melakukan pembunuhan.
3. Aniaya terhadap
binatang seperti menelantarkan piaraan, menjadikan sasaran menembak.
4. Aniaya terhadap diri sendiri: minum2an keras, malas, menyiksa diri sendiri, bunuh diri.
4. Aniaya terhadap diri sendiri: minum2an keras, malas, menyiksa diri sendiri, bunuh diri.
Keburukan-keburukan aniaya bagi pelakunya:
1. Dibenci masyarakat.
2. Tidak tenang, dibayangi rasa takut.
3. Mencemarkan nama baik diri dan keluarganya.
4. Dijatuhi hukuman apabila perbuatannya diketahui.
5. Jika tidak bertaubat dg sungguh maka akan dicampakkan kedalam neraka.
Keburukan-keburukan bagi orang lain:
1. Orang yang dianiaya akan mendapat bencana, seperti kehilangan harta benda, sakit, jijwa.
2. Bila penganiayaan terjadi dimana-dimana maka masyarakat tidak mengalami ketentraman, dan kedamaian.
3. Semangat dan gairah kerja masyarakat akan menurun, karena dibayangi rasa takut.
4. Jika dalam suatu negri jumlah orang-orang jalimnya mayoritas, dan tidak bertaubat, tidak mustahil Allah swt akan menimpakan azab.
1. Orang yang dianiaya akan mendapat bencana, seperti kehilangan harta benda, sakit, jijwa.
2. Bila penganiayaan terjadi dimana-dimana maka masyarakat tidak mengalami ketentraman, dan kedamaian.
3. Semangat dan gairah kerja masyarakat akan menurun, karena dibayangi rasa takut.
4. Jika dalam suatu negri jumlah orang-orang jalimnya mayoritas, dan tidak bertaubat, tidak mustahil Allah swt akan menimpakan azab.
Artinya :
Sesungguhnya Tuhan
kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia
bersemayam di atas 'Arsy untuk mengatur segala urusan. tiada seorangpun yang
akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian Itulah
Allah, Tuhan kamu, Maka sembahlah Dia. Maka Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?.(
QS Yunus 10:3)
`3) DISKRIMINASI
Pengertian
Secara bahasa
diskriminasi berasal dari bahasa Inggris “Discriminate” yang
berarti membedakan.Dan dalam bahasa arab istilah diskriminasi dikenal
dengan Al-Muhabbah yang
artinya membedakan kasih antara satu dengan yang lain atau
pilih kasih.Kosakata discriminate ini kemudian diadopsi menjadi kosa kata
bahasa Indonesia “Diskriminasi” yaitu suatu sikap yang
membeda-bedakan orang lain berdasarkan suku, ras, bahasa, budaya, ataupun
agama.
Diskriminasi artinya
memandang sesuatu tidak secara adil dan memperlakukannya pula secara pilih
kasih.Agar kita terhindar dari perbuatan diskriminasi ini perlu sekali
memahami tentang hak-hak dan kewajiban seseorang. Jika kita mau melakukan
diskriminasi, maka perhatikan dulu apakah dia memang berhak
atau tidak, jika memang berhak, maka kita harus mengurungkan diri untuk
berbuat diskriminasi.
Jenis Perbuatan Diskriminasi
Adapun bentuk
penyimpanan perilaku-perilaku
penyimpangan individual menurut
kadar penyimpangan nya adalah sbb :
a. Penyimpangan tidak patuh pada nasihat
orang tua agar mengubah pendiriannya yang tidak sesuai dengan nilai
islam.
b. Penyimpangan karena tidak taat
terhadap pimpinan yang disebut pembangkang
c. Penyimpangan karena melanggar
norma umum yang berlaku disebut pelanggar.
d. Penyimpangan karena tidak menepati
janji,berkata bohong,berkhianat kepercayaan.Khianat dan berlagak membela,disebut
munafik.
Terjadinya bentuk-bentuk perbedaan sosial
(diferensiasi) dalam masyarakat diakibatkan
oleh adanya ciri-ciri tertentu, yaitu cirri-ciri fisik, social, dan
budaya.
a. Ciri-ciri fisik, yang berkaitan dengan
ras, yaitu penggolongan manusia atas dasar persamaan cirri-ciri fisik yang
tampak dari luar, seperti bentuk kepala, badan, hidung, rambut, muka, dan
tulang rahang bawah, serta warna kulit, rambut, dan mata. Perbedaan cirri-ciri
fisik sangat dirasakan pada masyarakat dalam Negara yang menjalankan politik
diskriminasi social, misalnya politik Apartheid di Afrika Selatan, sebelum
Presiden Nelson Mandela.
b. Ciri-ciri sosial, yaitu yang berkaitan
dengan status dan peran para warga masyarakat dalam kehidupan sosial.
c. Ciri-ciri budaya, yaitu ciri
yang merupakan pembeda budaya dan suku.
Dengan adanya perbedaan social (diferensiasi)
maka dapat kita katakana bahwa diferensiasi merupakan awal
adanya stratifikasi dan menjadi pemicu munculnya sikap diskriminasi.
Dampak Negatif Diskriminasi
a. Memicu munculnya sektarianisme
b. Memunculkan antar kelompok
c. Mengundang masalah social yang baru
d. Menciptakan penindasan dan otoritarianisme dalam kehidupan
e. Menghambat kesejahteraan kehidupan
f. Menghalangi tegak nya keadilan
h .Mempersulit penyelesaian masalah.
Cara Menghindari DIskriminasi
Untuk menghindari
sikap diskriminasi,maka setiap muslim
harus mengedepankan sikap musawah.Sikap Musawah
(persamaan) cukup urgen dalam kehidupan modern.Sikap ini memiliki tujuan
untuk menciptakan rasa kesejajaran,persamaan dan
kebersamaan serta penghargaan terhadap sesama manusia
sebagai makhluk Tuhan.
Adapun hal-hal untuk menghindari diskriminasi,
yaitu :
a. Ta’aruf adalah, saling kenal
mengenal yang tidak hanya bersifat fisik atau biodata ringkas belaka,tetapi
lebih jauh lagi menyangkut latar
pendidikan,budaya,keagamaan,pemikiran,ide-ide,cita-cita serta problem kehidupan
yang dihadapi
b. Tafahum adalah, saling
memahami kelebihan dan kekurangan,kekuatan dan kelemahan masing-masing,sehingga
segala macam bentuk kesalahpahaman dapat dihindari
c. Ta’awun adalah, saling
tolong menolong
d. Takaful adalah, saling memberikan
jaminan.
Hikmah Menghindari Diskriminasi
1. Mengutamakan orang lain
2. Meringankan beban orang lain
3. Tidak menjadi beban orang lain
4. Ramah tamah terhadap sesama manusia
5. Berperilaku sesuai ajaran islam
6. Wajar dan realistis.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam islam akhlak
merupakan hal yang sangat diperhatikan, sehingga dalam islam akhlak terbagi
atas dua akhlak terpuji dan akhlak tercela. Akhlak terpuji adalah akhlak yang
disukai , disenangi oleh Allah swt bahakn dianjurkan dan diwajibkan. Akhlak
tercela adalah akhlak yang dilarang dan diharamkan oleh Allah swt. Akhlak
terpuji dan akhlak tercela begitu banyak, tetapi pada intinya niatkan hati kita
hanya untuk beribadah kepada Allah swt.
B. Saran
Alhamdulillah akhirnya
penyusun dapat menyelesaikan makalah ini, segala koreksi dan saran demi
kesempurnaan makalah ini penyusun harapkan sebagai bentuk kepedulian bagi yang
ingin menambah khazanah kekeliruan dan sebagai bahan untuk memperbaiki dari apa
yang telah disusunnya. Sehingga mudah-mudahan kedepannya bisa lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
http://syafrisalmi.wordpress.com/2012/10/25/makalah-aqidah-akhlak-tentang-pembahasan-akhlak-terpuji/
http://boxuchul.blogspot.com/2012/03/akhlak-terpuji-dan-akhlak-tercela.html
Buku modul Al-Hikmah akidah akhlak kelas x
semester I & II
Syeikh Ibrahim Jalhum. 2003. Pelita
As-Sunnah Petunjuk Jalan Bagi Kaum Muslimin. Bandung. Pustaka Setia
Mustofa H. 1997. Filsafat Islam.
Bandung: Pustaka Setia
Nata, Abuddin. 2010 .Akhlak Tasawuf.
Jakarta : Rajawali Pers
Tidak ada komentar:
Posting Komentar